Ramadhan 2020
Cerita Ramadan Mahasiswa Lampung di Australia, Puasa Hanya 12 Jam Sehari
Saat ini, kata Anwar, di sana sedang musim gugur. Dengan begitu, waktu puasa di Negeri Kanguru menjadi lebih pendek.
Penulis: sulis setia markhamah | Editor: Daniel Tri Hardanto
"Sejak awal Maret udah diterapkan physical distancing. Jadi ya tempat umum dan jalan-jalan jadi lebih sepi," tutur Anwar.
Diakuinya, aturan di negara bagian Australia ini begitu ketat.
Meskipun minimarket tetap beroperasi, konsumen harus menjaga jarak antrean di kasir.
"Restoran cuma boleh take away. Jadi banyak yang tutup juga akhirnya," beber anak dari pasangan Hamsin dan Afiyah ini.
Untuk kebutuhan berbuka dan makan sahur, Anwar memilih memasak sendiri agar lebih hemat.
"Kalau untuk makan di sini masak sendiri biar hemat," kata dia.
Karena masak sendiri, Anwar kerap memasak menu masakan khas Indonesia seperti sayur sop, tumis sayuran, tempe goreng, dan sambal.
Mencari bahan makanan khas Indonesia juga diakuinya tidak sulit karena orang Indonesia di Australia cukup banyak.
Di toko-toko Asian Food banyak dijual bahan makanan dan bumbu dari Indonesia.
"Harga tempe sekitar 4 dolar Australia atau hampir Rp 40 ribuan per buah. Ukurannya kayak tempe kemasan yang ada di Indonesia," paparnya.
Anwar mengaku begitu merindukan masakan ibunya, terutama tempe goreng dan sambal terasi.
"Selain rindu suasana rumah, tentunya masakan ibu. Apalagi tempe goreng sama sambel terasinya. Udah nggak ada obat, hahaha," ucapnya sambil tertawa.
Melanjutkan kebiasaan di Lampung, Anwar selalu berbuka puasa dengan takjil.
"Harus selalu ada takjil. Jadi ya biasanya bikin takjil. Gak yang ribet sih, paling jeli atau roti panggang sama teh manis," bebernya.
Anwar sebenarnya memiliki rencana pulang ke Pringsewu saat libur kuliah Juli mendatang.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lampung/foto/bank/originals/anwar-fadila-3.jpg)