Ramadhan 2020
Cerita Ramadan Mahasiswa Lampung di Australia, Puasa Hanya 12 Jam Sehari
Saat ini, kata Anwar, di sana sedang musim gugur. Dengan begitu, waktu puasa di Negeri Kanguru menjadi lebih pendek.
Penulis: sulis setia markhamah | Editor: Daniel Tri Hardanto
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG - Menjalankan ibadah Ramadan di luar negeri tentu berbeda dengan di Indonesia.
Perbedaan waktu, cuaca, budaya, hingga makanan menjadi tantangan tersendiri berpuasa di luar negeri.
Seperti apa cerita warga Bandar Lampung yang menjalankan ibadah puasa di luar negeri?
Anwar Fadila merupakan mahasiswa asal Pringsewu, Lampung, yang tinggal di Victoria, Australia.
• Kisah Warga Bandar Lampung Berpuasa di Amerika Serikat Saat Wabah Corona Melanda
• Kisah Warga Bandar Lampung Berpuasa di Luar Negeri, Rilda: Puasa di Inggris 17 Jam
• Bolehkah Bayar Zakat Fitrah di Awal Ramadan?
• Niat Bayar Zakat Fitrah untuk Diri Sendiri dan Keluarga saat Bulan Ramadan 2020
Ia tengah menempuh pendidikan pascasarjananya di Monash University sejak satu tahun terakhir.
Saat ini, kata Anwar, di sana sedang musim gugur.
Dengan begitu, waktu puasa di Negeri Kanguru menjadi lebih pendek.
"Karena masih autumn, puasanya lebih pendek dari Indonesia, cuma 12 jam dan bakal terus berkurang karena menjelang winter atau musim dingin," kata Anwar kepada Tribunlampung.co.id, Jumat (1/5/2020) pukul 20.43 WIB.
"Malam harinya yang jadi lebih lama dari siang," tambahnya dia.
Menurutnya, suasana Ramadan di Victoria tidak terasa.
Pasalnya, mayoritas penduduknya bukan Muslim.
"Kalo puasa di sini, karena bukan negara dengan mayoritas Muslim, ya biasa aja. Semua beraktivitas kayak biasa," ceritanya.
Tetapi bukan berarti tidak ada tarawih berjamaah di masjid.
"Biarpun bukan mayoritas, di sini banyak juga warga muslimnya. Kalo nggak ada covid, biasanya ada tarawih di masjid, ada buka bersama juga," ceritanya.
Karena dampak Covid-19 ini juga, aktivitas masyarakat jadi tidak normal seperti sebelum ada pandemi.
"Sejak awal Maret udah diterapkan physical distancing. Jadi ya tempat umum dan jalan-jalan jadi lebih sepi," tutur Anwar.
Diakuinya, aturan di negara bagian Australia ini begitu ketat.
Meskipun minimarket tetap beroperasi, konsumen harus menjaga jarak antrean di kasir.
"Restoran cuma boleh take away. Jadi banyak yang tutup juga akhirnya," beber anak dari pasangan Hamsin dan Afiyah ini.
Untuk kebutuhan berbuka dan makan sahur, Anwar memilih memasak sendiri agar lebih hemat.
"Kalau untuk makan di sini masak sendiri biar hemat," kata dia.
Karena masak sendiri, Anwar kerap memasak menu masakan khas Indonesia seperti sayur sop, tumis sayuran, tempe goreng, dan sambal.
Mencari bahan makanan khas Indonesia juga diakuinya tidak sulit karena orang Indonesia di Australia cukup banyak.
Di toko-toko Asian Food banyak dijual bahan makanan dan bumbu dari Indonesia.
"Harga tempe sekitar 4 dolar Australia atau hampir Rp 40 ribuan per buah. Ukurannya kayak tempe kemasan yang ada di Indonesia," paparnya.
Anwar mengaku begitu merindukan masakan ibunya, terutama tempe goreng dan sambal terasi.
"Selain rindu suasana rumah, tentunya masakan ibu. Apalagi tempe goreng sama sambel terasinya. Udah nggak ada obat, hahaha," ucapnya sambil tertawa.
Melanjutkan kebiasaan di Lampung, Anwar selalu berbuka puasa dengan takjil.
"Harus selalu ada takjil. Jadi ya biasanya bikin takjil. Gak yang ribet sih, paling jeli atau roti panggang sama teh manis," bebernya.
Anwar sebenarnya memiliki rencana pulang ke Pringsewu saat libur kuliah Juli mendatang.
"Kalau Lebaran nggak ada niatan pulang karena masih kuliah. Cuma awalnya rencana mau pulang pas libur kuliah bulan Juli. Tapi karena pandemi nggak jadi," ucapnya.
Terkait aktivitas perkuliahannya, Anwar mengatakan masih di pertemuan ketujuh dari 12 pertemuan pada semester ini.
Itu pun kini dilakukan full online di rumah.
"Kalau di fakultasku emang udah online juga sih sebelum Covid. Biarpun cuma 50 persen online. Sekarang jadi full online," kata Anwar.
Mengenai wabah virus corona, dia berharap bisa segera berakhir sehingga bisa beraktivitas normal kembali.
"Jadi bisa kumpul-kumpul lagi," tutupnya. (Tribunlampung.co.id/Sulis Setia M)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lampung/foto/bank/originals/anwar-fadila-3.jpg)