Berita Nasional

Nenek Berusia 110 Tahun Masih Sehat di Sulawesi, Tak Pernah Tinggalkan Salat, Zikir, dan Mengaji

Nenek bernama Wa Kaua itu berusia sekitar 110 tahun. Pada usia tersebut, ia tak pernah meninggalkan salat lima waktu dan mengaji setiap harinya.

KOMPAS.com/DEFRIATNO NEKE
Di usia yang mencapai sekitar 110 tahun ini, nenek Wa Kaua tak pernah melepaskan salat lima waktu dan mengaji setiap harinya. Nenek Berusia 110 Tahun Masih Sehat di Sulawesi, Tak Pernah Tinggalkan Salat, Zikir, dan Mengaji. 

Sejak tak bisa jalan itu, ia tak bisa beraktivitas apa pun.

Meski hidup di tengah hutan, ia mengaku tak kesulitan air bersih atau kebutuhan makan lainnya.

Di dekat tempat tinggalnya ada sungai dengan air yang cukup jernih.

Untuk makanan, ia mengandalkan sayur yang ditanam sendiri, seperti daun singkong dan bayam.

Untuk beras, ia mengatakan mendapat jatah beras raskin dari pemerintah.

"Kalau enggak dapat jatah beras, ya saya sudah biasa cukup minum air putih saja," katanya.

Ditanya usianya berapa, Mbah Arjo mengaku sudah 200 tahun.

Soal tahun kelahirannya, ia mengaku lupa dan hanya ingat harinya, yaitu Selasa Kliwon (pada subuh).

Ia kelahiran Desa Gadungan yang berjarak sekitar 8 kilometer dari tempatnya sekarang ini.

"Kalau dikait-kaitkan dengan peristiwa zaman dulu soal masa kecil saya, ya saya sudah lupa. Namun, ketika zaman penjajah Jepang, saya sudah beristri yang keenam. Sebab, kelima istri saya itu meninggal dunia sehingga saya menikah lagi dan dapat istri orang Ponorogo. Namanya Suminem. Ia meninggal dunia ketika Indonesia merdeka," paparnya.

Sebanyak enam kali menikah itu, ia mengatakan dikaruniai 18 anak.

Namun, 17 anaknya sudah meninggal dunia dan tinggal satu orang, yakni Ginem yang hidup bersamanya dan mengalami keterbelakangan mental.

Widodo, Kades Gadungan, menuturkan sebelum tinggal di kompleks Candi Wringi Branjang, Mbah Arjo tinggal di desanya.

Namun, sejak menemukan candi itu, ia memilih tinggal di situ dan mendirikan gubuk.

"Data di kependudukan desa kami, Mbah Arjo tercatat kelahiran Desa Gadungan pada 19 Januari 1825. Data pendukungnya, ya enggak ada. Cuma, kakek saya Mbah Mawiro Pradio yang kelahiran 1918 saja, memanggil Mbah Arjo itu kakek. Berarti bisa dibayangkan, kalau Mbah Arjo sudah sangat tua. Mbah saya itu baru meninggal tahun 1990," ungkap Widodo yang usianya baru 48 tahun.

Entah kelebihan apa yang dimiliki Mbah Arjo karena setelah menemukan candi itu dan tinggal di dekat candi itu, hampir selalu ada tamu yang datang di hari-hari tertentu.

Lebih-lebih, setiap malam 1 Suro, menurut Widono, Mbah Arjo selalu kebanjiran tamu.

Tak hanya dari Blitar, tetapi dari sejumlah daerah, seperti Yogyakarta, Ponorogo, Pacitan, bahkan Jakarta.

Mereka melakukan ritual melekan di gubuk Mbah Arjo.

"Biasanya para tamu lapor ke desa, bahkan perangkat kami sering kali yang mengantar tamu-tamunya Mbah Arjo. Kalau ada melekan 1 Suro, malah kami yang meminjami genset karena tempat tinggalnya belum terjangkau listrik," tuturnya.

Bahkan, tamunya tak hanya kalangan orang biasa.

Tak sedikit para pengusaha dan para pejabat.

Salah satunya tamu Mbah Arjo adalah Heri Noegroho, Bupati Blitar dua periode 2005-2015.

Meski tamunya banyak orang berduit, kehidupan Mbah Arjo tetap sederhana.

Buktinya, ia tak mampu membeli beras sehingga sering tak makan.

"Bahkan, saya tahu sendiri, pernah diberi uang oleh seorang pejabat yang dibantunya. Namun, Mbah Arjo tak mau. Malah si pejabat itu diberi uang dolar yang bentuknya masih baru dan asli. Oleh pejabat, dolar itu diterimanya," tutur Widodo.

Heri Noegroho mengaku mengenal Mbah Arjo dengan bak dan ia kagum dengan kesederhanan Mbah Arjo.

"Dulu (saat masih jadi bupati) saya memang sering ke sana dengan naik sepeda motor. Selain ada kepentingan tersendiri dengan Mbah Arjo, juga sekalian ingin mengenalkan destinasi wisata, yakni candi penemuan Mbah Arjo (Candi Wringin Branjang) itu," tuturnya, Minggu (14/1/2018).

Soal usia Mbah Arjo, Heri Neogroho mengaku tak tahu pasti.

Namun, ia yakin Mbah Arjo sudah berusia 100 tahun lebih.

Dari sosok Mbah Arjo, Heri mengaku banyak pelajaran hidup yang bisa dipetik.

Selain sederhana, ia bisa bertahan hidup di lereng pegunungan dengan makanan yang ada.

"Mungkin dengan kondisinya seperti itu, ia jadi awet hidup karena tak berpikiran macam-macam," ujarnya.

Mbah Arjo mengaku telah mengalami Gunung Kelud meletus sebanyak enam kali.

Namun, ia lupa detail tahunnya.

Ia hanya mengingat letusan yang paling dashyat pada 1990.

Saat itu dirinya sudah tinggal di lereng gunung tersebut.

Saat Gunung Kelud meletus, ia tak mau dievakuasi dan tetap tinggal di gubuknya itu bersama anaknya.

"Padahal, saat itu ketebalan abu di desa kami saja sampai 1 meter. Namun, ketika mau dievakuasi, Mbah Arjo enggak mau. Malah bilang, 'Saya enggak usah dievakuasi karena saya sudah kenal semua dan teman saya di sini banyak.' Padahal, di gubuknya itu ia hanya tinggal berdua dengan anaknya. Namun, katanya temannya banyak," papar Widodo.

Baru saat terjadi letusan Genung Kelud pada 2014, Mbah Arjo dan anaknya dievakuasi paksa meski sempat menolak.

Warga khawatir Mbah Arjo terkena imbas dari letusan.

Karena jika meluap, kali lahar akan lewat di depan tempat tinggal Mbah Arjo.

"Katanya, saya enggak usah dibawa pergi, wong di sini saya sudah ada yang memayungi. Tapi kami enggak tega. Ya saat itu kami ke balai desa," ungkapnya.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Masih Sehat, Nenek Usia 110 Tahun Ini Tak Pernah Tinggalkan Shalat, Mengaji dan Berzikir.

Nenek asal Sulawesi Tenggara bernama Wa Kaua yang berusia sekitar 110 tahun ungkap rahasia panjang umur. (Kompas.com)

Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved