Palestina Krisis Keuangan, Pemeritah Tak Mampu Bayar Gaji Pegawai dan Tentara, Negara Arab Bungkam

Erekat menjelaskan permintaan pinjaman itu sejalan dengan keputusan Liga Arab sebelumnya untuk memastikan jaringan keuangan Arab aman ke Palestina.

Editor: Romi Rinando
(AFP/HAZEM BADER)
Seorang pedagang meletakkan buah semangka di atas kepalanya di jalan masuk Kota Jericho, Tepi Barat, Palestina, Jumat (12/6/2020). 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID  - Pemerintahan Palestina di Tepi Barat sedang menghadapi krisis ekonomi terberat.

Tak tahan menghadapi pukulan itu yang dilancarkan oleh Israel, Palestina berteriak minta bantuan ke negara-negara Arab.

Tetapi, belum ada satupun negara tetangganya yang kaya raya menggubris teriakan rakyat Palestina.

Seorang pejabat senior Palestina, Sabtu (13/6/2020) mengaku telah meminta bantuan dari negara-negara Arab.

Umat Muslim Palestina berbicara dengan petugas Israel yang berjaga di depan Lions Gate, pintu masuk utama ke Masjid Al-Aqsa, di Kota Tua Yerusalem, Jumat (21/7/2017). Israel melarang pria Palestina yang berusia di bawah 50 tahun untuk masuk ke kawasan Kota Tua dan menjalani Shalat Jumat, menyusul insiden penembakan dua polisi Israel.(AFP PHOTO / JACK GUEZ)
Umat Muslim Palestina berbicara dengan petugas Israel yang berjaga di depan Lions Gate, pintu masuk utama ke Masjid Al-Aqsa, di Kota Tua Yerusalem, Jumat (21/7/2017). Israel melarang pria Palestina yang berusia di bawah 50 tahun untuk masuk ke kawasan Kota Tua dan menjalani Shalat Jumat, menyusul insiden penembakan dua polisi Israel.(AFP PHOTO / JACK GUEZ) ()

Palestina Umumkan Kemerdekaan jika Israel Caplok Tepi Barat

Ada Misteri Besar di Bawah Masjid Al Aqsa, Jadi Alasan Israel Mati-Matian Ingin Kuasai Palestina

Serentak Ucap Takbir, Jamaah Muslimin Hizbullah Lakukan Aksi Bela Palestina di Tugu Adipura

 

Dikatakan, Palestina membutuhkan pinjaman bulanan sebesar 100 juta dolar AS atau sekitar Rp 1,4 miliar per bulan.

Pejabat itu mengatakan pinjaman itu untuk mengatasi krisis keuangan yang semakin parah.

Saeb Erekat, Sekretaris Jenderal Komite Eksekutif Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), Sabtu (13/6/2020) mengatakan hal itu kepada radio resmi, Voice of Palestine.

Erekat menjelaskan permintaan pinjaman itu sejalan dengan keputusan Liga Arab sebelumnya untuk memastikan jaringan keuangan Arab aman ke Palestina.

"Penting untuk memberikan bantuan keuangan dari Arab untuk mendukung perbendaharaan Palestina," ujarnya.

Dia mengatakan dalam mengatasi situasi dan tantangan yang sulit saat ini, hanya satu-satunya opsi, negara Arab harus memberi bantuan lunak.

Awal bulan ini, Otoritas Palestina menolak uang dari pendapatan pajak yang dikumpulkan Israel dari perdagangan Palestina.

Perdagangan biasanya dilakukan di titik persimpangan di bawah kendali Israel.

Ini adalah bagian dari keputusan kepemimpinan Palestina untuk menghilangkan semua perjanjian dengan Israel.

Termasuk sektor keamanan dan ekonomi, sebagai tanggapan atas rencana yang terakhir untuk mencaplok tanah Palestina di Tepi Barat.

Namun, pemerintah Palestina menghadapi krisis keuangan parah.

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved