Berita Nasional
Kata Epidemiolog soal Indonesia Jadi Hotspot Baru Wabah Corona Dunia
Indonesia disebut mendekam di peringkat ke-163 dengan hanya melakukan 2.193 tes per 1 juta orang.
"Kalau dikomparasikan dengan negara yang lain, bisa jadi kita masih belum se-ideal negara yang lain," papar dia.
Namun, Riris melanjutkan, penanganan sebaik apa pun tak akan menghasilkan apa-apa bila masyarakat tidak mematuhi aturan yang sudah dibuat sebelumnya.
Oleh karena itu, penanganan dapat memberi hasil jika masyarakat juga ikut berkontribusi secara bersama-sama.
"Sebaik apa pun penanganan pemerintah, misalnya membuat aturan pembatasan dan lain sebagainya, ketika masyarakatnya tidak berkontribusi untuk mematuhinya, ya tidak pernah berhasil," kata Riris.
Bagaimana agar tak jadi hotspot?
Agar pemberitaan dari media asing tersebut tidak terjadi, Riris memberikan satu-satunya solusi yang dapat dijalankan oleh masyarakat. "Kuncinya hanya satu, yaitu patuh.
Kemudian seluruh energi, nafsu dan segala kepentingan harus disingkirkan dahulu," jelas dia.
Yang ia maksud yakni, setiap masyarakat harus patuh dalam menjalankan protokol kesehatan seperti memakai masker, selalu cuci tangan dan jaga jarak.
Saat ini, lanjutnya, semua pihak harus bersatu dan fokus dalam menangani pandemi virus corona.
Selain itu, aksi-aksi yang sifatnya mengumpulkan banyak orang juga harus dihindari terlebih dahulu.
"Jadi kalau kita mau berhasil melawan pandemi ini, ya semua pihak sekarang mau tak mau perlu untuk bersatu menjadi orang Indonesia.
Bukan kemudian yang satu punya kepentingan apa, yang satu apa dan saling tarik menarik kepentingan," imbuh dia.(*)
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Indonesia Disebut Bisa Jadi Hotspot Virus Corona Dunia, Epidemiolog: Memang Bisa"
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lampung/foto/bank/originals/suasana-kemacetan-di-sembalun-lombok-saat-pandemi-corona.jpg)