Jakob Oetama Wafat

Jakob Oetama Dikenal sebagai Sosok Sederhana dan Jujur

Semasa hidupnya, Jakob Oetama dikenal sebagai seorang pribadi yang sederhana dan selalu mengutamakan kejujuran, integritas, rasa syukur, dan humanisme

Editor: taryono
Kompas.com/RADITYA HELABUMI
Ilustrasi Jakob Oetama semasa hidup. Pendiri Kompas Gramedia, Jakob Oetama meninggal dunia di Jakarta pada Rabu (9/9/2020). 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID - Semasa hidupnya, Jakob Oetama dikenal sebagai seorang pribadi yang sederhana dan selalu mengutamakan kejujuran, integritas, rasa syukur, dan humanisme.

Diketahui, Jakob Oetama meninggal dunia pada hari ini, Rabu 9 September 2020 di Rumah Sakit Mitra Keluarga Kelapa Gading, Jakarta. 

Jakob Oetama meninggal pada pukul 13.05 WIB karena mengalami gangguan multiorgan, dan penyakit komorbid yang ia derita.

Dilansir dari Kompas.com, Jakob Oetama dirawat di rumah sakit karena keadaannya yang kritis dan lemah.

Jakob Oetama dikenal sebagai sosok pendiri Kompas Gramedia, sekaligus pemimpin Harian Kompas.

Ia lahir pada 27 September 1931 di Desa Jowahan, Borobudur, Jawa Tengah.

Jakob Oetama Meninggal Dunia, Mabes Polri: Indonesia Kehilangan Tokoh Pers Terbaik

Jenazah Jakob Oetama Akan Disemayamkan di Gedung KG

Jenazah Jakob Oetama Disemayamkan di Gedung Kompas Gramedia, Jakarta

Lulus dari Seminari Menengah St. Petrus Canisius Mertoyudan, sembari berprofesi sebagai guru di SMP, Jakob juga mengikuti Kursus B-1 Ilmu Sejarah hingga lulus.

Setelah lulus, kemudian ia melanjutkan kuliah ke Perguruan Tinggi Publisistik Jakarta dan Jurusan Ilmu Komunikasi Massa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Gadjah Mada hingga tahun 1961.

 

Jakob Oetama memberikan sambutan pada Kongres XIX SPS di Istana Negara (9/7/1994). Jakob mengemukakan, pemilihan tema Kongres ke-19 SPS
Jakob Oetama memberikan sambutan pada Kongres XIX SPS di Istana Negara (9/7/1994). Jakob mengemukakan, pemilihan tema Kongres ke-19 SPS "Meningkatkan kebersamaan lembaga-lembaga pers dalam mensukseskan pembangunan jangka panjang" bukan karena basa-basi atau anut grubyug (ikut-ikutan). Pemilihan itu dilakukan dengan kesadaran dan pemikiran yang disertai rasa tanggungjawab bagi peningkatan serta kesinambungan pembangunan nasional. (KOMPAS/JB SURATNO)

Ayahnya yang merupakan seorang guru, sempat membuat Jakob saat muda termotivasi dan bercita-cita untuk meneruskan profesi ayahnya sebagai seorang guru.

Sebelum menjadi seorang jurnalis senior dan tokoh pers nasional, Jakob sempat berprofesi sebagai guru.

Jakob pernah mengajar di SMP Mardi Yuwana Cipanas, Sekolah Guru Bagian B (SGB) Lenteng Agung Jagakarsa, dan di SMP Van Lith Jakarta.

Kemudian minat menulisnya mulai tumbuh karena kegigihannya dalam mempelajari ilmu sejarah.

Kemudian Jakob Oetama memutuskan beralih profesi dan terjun di dunia jurnalistik.

Kariernya di dunia Jurnalistik dimulai saat ia menjabat menjadi redaktur di majalah Penabur, Jakarta.

Pendiri sekaligus pemilik Kompas Gramedia, Jakob Oetama, memberikan sambutan dalam acara peringatan ulang tahunnya yang ke 80 di Bentara Budaya Jakarta, Selasa (27/9/2011). Dalam acara tersebut juga diluncurkan sebuah buku Jejak langkah tentang kehidupan Jakob Oetama selama 80 tahun yang berjudul Syukur Tiada Akhir yang disusun oleh St Sularto. (TRIBUNNEWS/DANY PERMANA)
Pendiri sekaligus pemilik Kompas Gramedia, Jakob Oetama, memberikan sambutan dalam acara peringatan ulang tahunnya yang ke 80 di Bentara Budaya Jakarta, Selasa (27/9/2011). Dalam acara tersebut juga diluncurkan sebuah buku Jejak langkah tentang kehidupan Jakob Oetama selama 80 tahun yang berjudul Syukur Tiada Akhir yang disusun oleh St Sularto. (TRIBUNNEWS/DANY PERMANA) (TRIBUNNEWS/DANY PERMANA)

Pada tahun 1963 ia bersama dengan teman baiknya, Petrus Kanisius Ojong (P.K. Ojong) menerbitkan majalah Intisari.

Majalah Intisari merupakan majalah yang menjadi cikal-bakal terdirinya Kompas Gramedia.

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved