Silaturahmi Tribun Bersama Bupati Tubaba

Bupati Umar Ahmad Paparkan Konsep Pembangunan Tubaba Berbasis Kebudayaan dan Ekologi

Jajaran manajamen Tribun Lampung bersilaturahmi dengan Bupati Tulangbawang Barat (Tubaba) Umar Ahmad, Selasa (15/09/2020).

Penulis: Endra Zulkarnain | Editor: Noval Andriansyah
Tribunlampung.co.id/Endra Zulkarnain
Bupati Tubaba Umar Ahmad memaparkan konsep kota budaya yang tengah dibangun di Tubaba dihadapan manajemen pimpinan Tribun Lampung yang dikomandoi Pimpinan Umum Hadi Prayogo di rumah dinasnya, Selasa (15/09/2020). Bupati Umar Ahmad Paparkan Konsep Pembangunan Tubaba Berbasis Kebudayaan dan Ekologi. 

Laporan Reporter Tribunlampung.co.id Endra Zulkarnain

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, TULANGBAWANG BARAT - Jajaran manajamen Tribun Lampung bersilaturahmi dengan Bupati Tulangbawang Barat (Tubaba) Umar Ahmad, Selasa (15/09/2020).

Manajemen Tribun yang dikomandoi Pimpinan Umum Tribun Lampung Hadi Prayogo diterima Bupati Umar Ahmad, di rumah dinasnya.

Dalam sambutannya, Bupati Umar memaparkan konsep pembangunan Tubaba berbasis kebudayaan dan ekologi yang tengah dibangunnya.

Konsep tersebut mengusung filosofi yang dianut leluhur suku Lampung maupun suku lain.

Salah satunya, filosofi kehidupan yang di anut suku Baduy, Banten.

Pemkab Tubaba, kata Umar, telah menetapkan kota budaya Ulluan Nughik menjadi daerah yang disebut Bunian.

Bunian ini sebutan mahluk yang akan menjaga pepohonan, sumber-sumber air dan kelestarian alam.

"Makhluk ini kita namai Bunian, yang akan menjaga kelestarian alam dan tutur-tutur. Ini nanti yang akan menjadi skema pembelajaran di sekolah-sekolah dasar dan menengah,” kata Umar, Selasa.

Umar menuturkan, mitologi orang Lampung tidak mengenal konsep Pandawa, melainkan konsep Kurawa.

Ia menuturkan orang Lampung mengajarkan kebaikan dengan banyak menyebut bagi orang yang melakukan keburukan dengan istilah sosok makhluk yang menggambarkan sifat-sifat buruk manusia, seperti rakus, tamak dan lain sebagainya.

Sebutan istilah sosok buruk yang ada pada masyaraka Lampung itu disebut, duguk, taun, dan isitilah cut bacut.

Istilah itu terkadang menjadi bahasa latah orang Lampung untuk menyebut seseorang yang punya sifat buruk.

“Jadi kalau kita tidak mau disebut seperti itu, maka kita jangan berbuat buruk dan kita harus melakukan kebaikan," kata Umar.

"Jadi kalau orang Lampung berbuat baik ternyata sebutannya tidak ada. Kenapa, karena bagi orang Lampung berbuat baik kepada sesama manusia itu adalah kewajiban tidak perlu dihargai, dan juga enggak perlu diagung-agungkan,” jelasnya.

Halaman
12
Sumber: Tribun Lampung
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved