Breaking News:

Tribun Lampung Tengah

8 Warga Binaan Beragama Hindu di Lapas Gunung Sugih Jalani Prosesi Galungan dan Kuningan

Lapas Kelas II B Gunung Sugih menjadi satu-satunya Lapas di Provinsi Lampung yang menyediakan Pura bagi tahanan yang beragama Hindu.

Dokumentasi
Ibadat umat Hindu di Lapas Kelas II B Gunung Sugih. 8 Warga Binaan Beragama Hindu di Lapas Gunung Sugih Jalani Prosesi Galungan dan Kuningan 

Laporan Reporter Tribunlampung.co.id Syamsir Alam

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID,GUNUNGSUGIH - Meski terkungkung di balik jeruji besi namun kebebasan beragama di Lapas Kelas II B Gunung Sugih dibuka selebar-lebarnya.

Hal itu dirasakan warga binaan yang beragama Hindu yang menjalankan Hari Raya Galungan dan Kuningan hari ini.

Delapan warga binaan yang beragama Hindu hari ini menjalankan prosesi ibadat mereka di Hari Galungan dan Kuningan yang mereka jalankan.

Made Suwamba selaku pembina warga binaan beragama Hindu mengatakan, bahkan Lapas Kelas II B Gunung Sugih menjadi satu-satunya Lapas di Provinsi Lampung yang menyediakan Pura bagi tahanan yang beragama Hindu.

"Semua kegiatan peribadatan kita dalam menjalani perayaan Galungan dan Kuningan hari ini, semuanya difasilitasi, Pak Kalapas (Sohibur Rachman) tidak membedakan dan membatasi ibadat yang dijalankan semua umat beragama, termasuk bagi yang beragama Hindu," kata Made Suwamba.

Dalam menjalani ibadat di penyelengaraan Galungan dan Kuningan hari ini, seluruh warga binaan bisa menjalani ritual dari pagi, siang dan malam hari.

Cerita Warga Binaan di Lapas Gunung Sugih Produksi Minyak Daun Sereh Merah Beromzet Jutaan

Penusuk Syekh Ali Jaber Dijerat Pasal Berlapis, Rumah Tersangka Disisir Densus 88

"Kami berterimakasih karena Kalapas tidak membedakan pelaksanaan ibadah semua umat beragama. Kami juga disiapkan pura untuk beribadah," imbuhnya.

Kalapas Gunung Sugih Sohibur Rachman mengatakan, sebelum adanya pandemi Covid-19, bahkan penyelenggaraan ibadat umat Hindu di dalam Lapas melibatkan umat penyuluh agama dari luar Lapas.

"Sebelum pandemi setiap perayaan sulinggih, purnama dantilem sebulan dua kali, pujawali peodalan, perayannya dapat diikuti warga dari luar Lapas, bahkan pembina dan penyuluhnya bergantian," ujar Sohibur Rachman. (Tribunlampung.co.id/Syamsir Alam)

Penulis: syamsiralam
Editor: Reny Fitriani
Sumber: Tribun Lampung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved