Penanganan Covid
Tak Terpengaruh Pandemi, Usaha Keripik Singkong Juanto Warga Gunung Agung Tetap 'Pedas'
Usaha milik Juanto bak cabe rawit, kecil tapi tetap pedas. Mampu bertahan di masa krisis.
Penulis: Endra Zulkarnain | Editor: Reny Fitriani
"Banyak juga warga yang membeli sekedar untuk cemilan, itu di awal-awal masyarakat mengenal keripik singkong buatan saya," kata Juanto, Jumat (02/10/2020) pekan lalu.
Ketekunan dan kerja keras Juanto terlebih di masa sulit pandemi Covid 19, usaha rumahan keripik singkong buatannya makin hari makin dikenal luas masyarakat.
Juanto pun terus kebanjiran order.
Kendati, skalanya masih lokalan Tubaba.
Banyaknya orderan yang datang setiap hari, Juanto pun menutup untuk memproduksi keripik singkong dengan skala besar.
"Karena mulai banyak menerima pesanan, kemudian saya putuskan produksi skala besar. Alhamdulillah, hasilnya dapat menambah pendapatan keluarga, dapat mencukupi kebutuhan sehari-hari," tutur Juanto.
Kali ini, produksi rumahan keripik singkong Juanto mulai merambah warung dan kios di luar desanya.
"Bukan hanya dijual kepada warga sekitar, tetapi mulai banyak melayani pedagang pasar dan juga warung-warung di seputaran kecamatan," ungkapnya.
Dari waktu ke waktu, secara perlahan usaha yang ditekuni Juanto terus berkembang.
Bahkan mampu bertahan di saat situasi lesu akibat dampak pandemi corona seperti saat ini.
Malah, usaha milik Juanto juga berdampak positif bagi beberapa warga, karena Juanto melibatkan tetangga untuk membantu mengkupas dan membersihkan singkong.
Juanto mendapatkan bahan baku untuk usahanya dari lingkungan sekitar.
“Bahan baku singkong saya peroleh dari kebun saya sendiri, dan juga membeli dari warga-warga skitar yang memiliki tanaman singkong makan,” jelasnya.
Dalam satu bulan Juanto membutuhkan sekitar 1 ton singkong untuk diolah menjadi keripik.
Juanto tetap dapat tersenyum di masa-masa sulit seperti saat ini.