Breaking News:

Tribun Tulangbawang Barat

Program Cetak Sawah Tulangbawang Barat Tak Jamin Krisis Pangan di Masa Pandemi Covid-19

Program cetak sawah di Kabupaten Tulangbawang Barat (Tubaba) dinilai tidak efektif membantu krisis pangan dimasa pandemi Covid-19.

Tribunlampung.co.id/Dedi Sutomo
Ilustrasi sawah- Program Cetak Sawah Tulangbawang Barat Tak Jamin Krisis Pangan di Masa Pandemi Covid-19. 

Laporan Reporter Tribunlampung.co.id Endra Zulkarnain

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, TULANGBAWANG BARAT - Program cetak sawah di Kabupaten Tulangbawang Barat (Tubaba) dinilai tidak efektif membantu krisis pangan dimasa pandemi Covid-19.

Pasalnya, kegiatan pengembangan lahan marjinal memerlukan waktu lama dan produksinya belum tentu memadai.

Sampai saat ini banyak kelompok tani yang memiliki lahan rawa yang digusur untuk cetak sawah pun mengalami gagal panen.

Seperti yang diungkapkan Lohmudin, petani padi di Tubaba.

Ia menceritakan baru pertama kali di gusur lahannya yang penuh dengan pohon-pohon rawa lalu diberi bantuan bibit.

Pemprov Lampung Akan Gandeng Akademisi Cetak Lahan Sawah Baru 

Pemkab Tulangbawang Barat Izinkan Masyarakat Gelar Pesta Hajatan dengan Syarat Tertentu

Namun, banjir yang menggenangi lahan sawahnya membuat bibit padi yang ditanam tidak tumbuh.

" Saya diberi bantuan bibit dan saya tanam di lahan yang dibuat cetak sawah. Namun belum sempat tumbuh tinggi padi saya sudah terendam banjir," kata Lohmudin, Selasa (06/10/2020).

Kondisi itulah, menurut Lohmudin, menjadi kendala petani disana untuk panen raya padi dilahan cetak sawah.

"Inilah kesulitan yang kami alami. Hingga sampai saat ini kami para petani tidak sanggup menanam padi di lahan tersebut karena tidak dapat memprediksi air rawa," papar Lohmudin.

"Air di tempat kami ini ketinggiannya bisa sampai tiga meter bahkan lebih. Jadi bagaimana kami bisa panen belum sempat tumbuh tinggi padinya sudah terendam banjir," tandas Lohmudin.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat antara 2018 dan 2019, luas panen padi berkurang dari 11,4 juta hektare (ha) menjadi 10,7 juta ha.

Pembukaan lahan sawah baru, terutama di lahan gambut dan rawa, disebut membutuhkan waktu lama mulai dari mengolah lahan dan proses pertaniannya.

Hasil pembukaan lahan pun belum bisa membantu kekurangan stok pangan yang terjadi saat ini.

(Tribunlampung.co.id/Endra Zulkarnain)

Penulis: Endra Zulkarnain
Editor: Noval Andriansyah
Sumber: Tribun Lampung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved