Tribun Tulangbawang Barat
Las Sengok, Destinasi Tubaba yang Terbuka bagi Siapa Saja
Bupati Tulangbawang Barat (Tubaba) Umar Ahmad mendeklarasikan bahwa Tubaba adalah daerah yang terbuka untuk siapa saja.
Penulis: Endra Zulkarnain | Editor: soni
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, PANARAGAN - Bupati Tulangbawang Barat (Tubaba) Umar Ahmad mendeklarasikan bahwa Tubaba adalah daerah yang terbuka untuk siapa saja.
Ini bermakna Tubaba tidak menutup diri terhadap siapapun yang ingin berbuat kebaikan terhadap Tubaba. Hal inilah yang mendasari berdirinya destinasi wisata budaya dan sejarah Las Sengok, yang didalamnya terdapat susunan bebatuan yang membentuk rasi bintang Orion.
Destinasi wisata Las Sengok ini berada di Tiyuh Karta, Kecamatan Tulangbawang Udik, Tubaba. "Kenapa pemilihan orion, karena rasi bintang ini sangat jelas di lihat dari manapun. Ini sebagai simbol keterbukaan Tubaba. Semua pintu kami copot, silahkan untuk bertubaba," kata Umar Ahmad, Minggu (11/10) malam.
Baca juga: Bupati Umar Ahmad Paparkan Konsep Pembangunan Tubaba Berbasis Kebudayaan dan Ekologi
Las Sengok di Tiyuh Karta ini berada di bantaran sungai Way Kiri, dihiasi dengan ornamen batu-batu besar dengan formasi batu berbentuk bintang Orion.
Batuan yang tersusun di Las Sengok disebut bebatuan yang berasal dari batu vulkanik letusan gunung krakatau.
Susunan batunya membentuk "Rasi Bintang Orion". Ini merupakan konsep taman megalitik atau taman purbakala.
Bupati Umar mengutarakan, Rasi Bintang Orion bermakna bintang-bintang yang terangnya terletak pada ekuator langit dan terlihat dari seluruh dunia. Sehingga membuat rasi ini dikenal secara luas.
Ini bermakna, Tubaba yang terbuka secara luas dan diharapkan di masa depan akan dikenal seluruh dunia.
"Lokasinya persis di penyilo'an, artinya silahkan. Kata yang di ucapakan pada saat berada di gerbang atau pintu. Jadi (batu Orion Las Sengok) tempatnya disebut sebagai gerbang selatan bumi," kata Umar Ahmad.
Las Sengok adalah nama yang diambil dari bahasa Lampung yang memiliki arti Hutan (Las) Larangan (Sengok).
Namun demikian, makna tersebut bukan berarti hutan yang dilarang untuk dikunjungi, tapi mengandung filosofi hutan yang harus dijaga.
"Ini memiliki visi menjaga keselarasan dengan lingkungan. Kalau dulu, las sengok adalah hutan larangan yang dianggap angker. Tapi filosofis sesungguhnya, adalah mengajak masyarakat untuk menjaga keselarasan alam," kata Umar Ahmad.
Konsep itulah yang diajarkan para leluhur untuk mengajak masyarakat menjaga kelestarian hutan, merawat sumber-sumber mata air dan flora fauna yang ada.
Selain di Las Sengok, konsep taman megalitik atau taman purbakala juga dibangun di dua lokasi lainnya.
Di Uluan Nughik di Tiyuh Panaragan, dan kompleks Islamik Center, di Kecamatan Tulangbawang Tengah.
Destinasi wisata yang dibangun itu memiliki mitologi pemikiran modern, klasik dan sejarah. Yang tentunya mengandung nilai kesenian dan kebudayaan yang tinggi. (endra)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lampung/foto/bank/originals/konsep-taman-purbakala-yang-dibangun-di-destinasi-wisata-las-sengok-tubaba.jpg)