Tribun Metro
Pelaku UMKM di Kota Metro Putar Otak Agar Omset Tak Turun Drastis
Mewabahnya Covid-19 ke seluruh penjuru dunia memberi dampak besar pada sektor usaha, tak terkecuali pelaku UMKM di Kota Metro.
Penulis: Indra Simanjuntak | Editor: Noval Andriansyah
Laporan Reporter Tribunlampung.co.id Indra Simanjuntak
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, METRO - Mewabahnya Covid-19 ke seluruh penjuru dunia memberi dampak besar pada sektor usaha, tak terkecuali pelaku UMKM di Kota Metro.
Seperti yang dirasakan Hermawan, pemilik Toko Aisyah.
Di mana omset bisnis yang telah dikelolanya hampir tiga tahun menurun drastis akibat pandemi.
Namun demikian, hal tersebut tak lantas membuat dirinya berhenti berinovasi.
Berawal dari jualan bus ke bus di Kota Bekasi tahun 2010 silam, pria 32 tahun ini akhirnya menemukan keberanian untuk membuka usaha sendiri setelah menemukan jaringan dan mendapat banyak pengalaman di jalanan.
Baca juga: Syarat Bagi Pelaku UMKM di Bandar Lampung untuk Daftar Banpres Produktif Rp 2,4 Juta
Baca juga: Wali Kota Achmad Pairin Pastikan 3 Ruas Jalan di Kota Metro Segera Mulus Tahun Ini
"Memang dampak Covid-19 ini sangat terasa, apalagi usaha kecil seperti kita ini."
"Tiga bulan pertama wabah, jualan hancur, itu (omset) berkurang 40 sampai 60 persen."
"Tapi untungnya saya sudah punya pengalaman jatuh bangun. Jadi enggak begitu kaget lagi," tutur Hermawan, Kamis (15/10/2020).
Bapak dua anak itu menceritakan, sejak 10 tahun lalu dirinya berjualan aksesoris perempuan.
Seiring waktu berjalan, ia memutuskan kembali ke Lampung dan membuka toko di Kota Gajah, Lampung Tengah.
Namun rencana tak berjalan mulus, hingga akhirnya kembali ke Bekasi.
"Saya kembali ke sana itu nimba ilmu lagi. Sekitar tahun 2012. Ya gagal, rugi. Terus saya buka konter kecil sambil pelajari kesalahan saya dan cari jaringan lagi di Bekasi."
"Karena lumayan berhasil, tahun 2015 pulang ke Metro. Itu jualan keliling, awalnya aksesoris sama mainan anak saja," kenang Hermawan.
Karena mendapat kepercayaan dari jaringan distributor, akhirnya Hermawan memberanikan mengurus izin usaha untuk buka toko di rumahnya Jalan Kunang, Kauman, dengan modal Rp 50 Juta.
Tak hanya menjual aksesoris dan mainan, ia pun melebarkan sayap usaha dengan menjual perlengkapan sekolah anak.
"Saya punya tiga karyawan. Dari jalanin sendiri, sampai bisa punya orang. Ya majulah. Tapi karena corona ini omzet turun, karyawan kurang satu. Mau enggak mau."
"Musibah begini kita dipaksa putar otak. Untung itu kita pangkas, dari 20-40 jadi 10-20 persen saja," imbuh Hermawan.
Namun, berkat pengalaman dan banyaknya jaringan, Hermawan tak putus asa dan mencoba barang lain untuk dijual saat pandemi.
"Karena masker kemarin ramai, saya jualan juga. Corona ini memang menuntut kita mengubah strategi. Memang semua barang saya dari Jakarta," terang Hermawan.
Menurutnya, pelaku UMKM di Lampung yang bergerak pada bidang mainan, aksesoris, hingga perlengkapan anak, rata-rata mengambil barang dari Pulau Jawa.
Karena di Lampung belum ada pabrik khusus mainan. Sementara untuk aksesoris, harga dari Jakarta jauh lebih murah.
"Cita-cita ke depan, maunya sih bikin pabrik atau minimal buat supermarket khusus yang saya jual ini. Minimal lebih besar dari yang sekarang lah."
"Peluang sebenarnya. Karena di Metro belum ada. Untuk mainan tradisional ada, tapi enggak banyak juga. Misal layangan," ungkap Hermawan.
Ia menilai, di Lampung banyak peluang usaha dan cukup terbuka, tapi belum banyak digeluti.
Terutama pada anak-anak muda atau usia produktif yang lebih cenderung memilih bekerja sebagai pegawai.
"Yang mimpi punya usaha banyak, tapi problemnya itu tidak punya keberanian untuk mulai. Memang enggak ada yang mudah, tapi modal utama usaha itu ya mulai aja dulu."
"Karena situasi nanti akan menambah pengalaman dan menciptakan kreativitas sendiri," tandas Hermawan.
(Tribunlampung.co.id/Indra Simanjuntak)