Universitas Lampung
FKIP Universitas Lampung Gelar Rencaka Pendidikan Bahasa dan Budaya Lampung
Fakultas Ilmu Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Lampung (Unila) menggelar Rencaka Pendidikan Bahasa dan Budaya Lampung bertajuk “Merdeka
Penulis: Advertorial Tribun Lampung | Editor: Advertorial Tribun Lampung
Sarasehan Pendidikan Bahasa Lampung
Acara diikuti 1.060 peserta terdiri dari kepala sekolah, guru, dosen, pemerhati bahasa dan budaya Lampung, sastrawan, kelompok penggiat budaya Lampung, serta para peserta asal luar Lampung dan luar negeri, yakni Arab Saudi dan Bangkok.
Selain rektor, panitia menghadirkan pemateri lain yakni Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung Drs. Sulpakar, M.M., Dr. Junaiyah H.M., M.Hum., selaku pemerhati Bahasa Lampung, Drs. Iqbal Hilal, M.Pd., selaku akademisi, tokoh adat Pepadun Drs. Ahmad Effendi Sanusi, M.Pd., dan tokoh adat Saibatin Drs. H. Ridwan Hawari, M.M.
Dr. Farida Ariyani, M.Pd., saat memoderatori sesi pemaparan materi mengungkapkan, melalui acara Dies Natalis FKIP Unila dirinya mengajak untuk menyamakan presepsi, bersama-sama bertukar pikiran tentang bagaimana melestarikan, mempertahankan, serta mengembangkan Bahasa Lampung sebagai warisan nenek moyang.
Adapun materi yang disampaikan para pemateri yakni materi tentang Strategi Pemerintah Provinsi Lampung dalam Pembinaan dan Pengembangan Bahasa dan Aksara Lampung, Implementasi Pembelajaran Bahasa dan Budaya Lampung untuk Mahasiswa S1, Pisaan Tradisi Perpantun pada Masyarakat Lampung yang Berkembang, Pembelajaran Bahasa dan Kebudayaan Lampung, Kajian Bahasa Lampung dari Bebagai Perspektif, serta yang terakhir tentang Bahasa dan Budaya Lampung dalam Ruang Keadatan Saibatin.
Rencaka Pendidikan Bahasa Lampung kemudian terhimpun dalam beberapa rumusan. Antara lain Unila melalui FKIP pada Prodi Pendidikan Bahasa Lampung dan Magister Pendidikan Bahasa dan Kebudayaan Lampung akan fokus pada pengembangan bahasa dan budaya Lampung melalui riset pengabdian kepada masyarakat dan pendidikan.
Hal yang akan dilakukan Unila adalah dengan mendirikan rumah adat Pepadun dan Saibatin serta membuat film Raden Inten 2 sebagai representasi tokoh pahlawan Lampung.
Selanjutnya pemerintah daerah Provinsi Lampung melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lampung memberikan perhatian dan komitmen untuk mengembangkan bahasa dan budaya Lampung melalui regulasi yang dikeluarkan, baik peraturan daerah dan Undang-Undang, juga pemberian beasiswa dan fasilitas asrama kepada calon mahasiswa prodi Pendidikan Bahasa Lampung sebanyak 70 mahasiswa. Hal ini didasari rasio hitung kurangnya guru bahasa Lampung di Provinsi Lampung sekitar 17.000 guru.
Kemudian sarana dan prasarana yang dibutuhkan sebagai penunjang belajar perkuliahan yang masih dinilai kurang. Untuk mewujudkan Prodi Pendidikan Bahasa Lampung dan Prodi S2 Magister Pendidikan Bahasa dan Kebudayaan Lampung (MPBKL) sesuai standar akreditasi unggul, harus memiliki gedung dan sarana penunjang.
Diharapkan ada tokoh yang memberikan hibah berupa lamban atau sarana lainnya sebagai bentuk apresiasi memiliki bahasa dan budaya Lampung.
Program Studi S1 Pendidikan Bahasa Lampung dan Prodi S2 MPBKL memberikan ruang dan bagi lulusan di luar bahasa untuk mengambil studi lanjut di MPBKL yang kelak kelulusannya sebagai guru bisa ditempatkan sebagai staf permuseuman, dinas pariwisata, pemilik kebudayaan peneliti perfilman dan juga sebagai duta hubungan nasional dan internasional.
Program studi S1 Pendidikan Bahasa Lampung telah merumuskan kurikulum berorientasi pada konsep Merdeka Belajar dengan fokus kajian yang merepresentasikan bahasa dan budaya Lampung secara holistik dari dialek a dan o, berdasarkan masyarakat adat Pepadun dan Saibatin melalui pembinaan dan pengembangan bahasa dan budaya Lampung secara formal dan nonformal. Dengan mengakumulasikan pemikiran dari para guru bahasa Lampung budayawan, konsultan, peneliti, penulis, dan wirausahawan.
Pantun sebagai salah satu jenis sastra lisan yang telah dicatat Unesco sebagai salah satu warisan budaya dunia tak benda khusus. Untuk patung Lampung, Pisaan, perlu menjadi kajian penting bahwa pantun Lampung yang saat ini berkembang melalui media sosial digunakan semua generasi menunjukkan hal yang baik. Hal yang menjadi perhatian adalah bagaimana merumuskan pantun Lampung kepada generasi muda dengan mengabaikan hal-hal kesubstansian daripada pantun tersebut.
Terakhir, masyarakat harus optimistis terhadap perkembangan dan budaya Lampung dari generasi ke generasi. Transfer knowledge dari orang tua kepada yang muda. Budaya tidak bisa dipisahkan dari pendidikan. Hal itu yang bisa dilakukan melalui sastra untuk generasi ke generasi dalam upacara-upacara adat.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lampung/foto/bank/originals/unila-oksa.jpg)