Breaking News:

Universitas Lampung

FKIP Universitas Lampung Gelar Rencaka Pendidikan Bahasa dan Budaya Lampung

Fakultas Ilmu Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Lampung (Unila) menggelar Rencaka Pendidikan Bahasa dan Budaya Lampung bertajuk “Merdeka

ist
Fakultas Ilmu Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Lampung (Unila) menggelar Rencaka Pendidikan Bahasa dan Budaya Lampung bertajuk “Merdeka Belajar delom Pembelajaran Bahasa Rik Budaya Lampung”. 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG - Fakultas Ilmu Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Lampung (Unila) menggelar Rencaka Pendidikan Bahasa dan Budaya Lampung bertajuk “Merdeka Belajar delom Pembelajaran Bahasa Rik Budaya Lampung”.

Rencaka Pendidikan merupakan bagian dari rangkaian Dies Natalis FKIP Unila ke-53 yang digelar secara daring dan luring, Kamis, 18 Februari 2021.

Rektor Unila Prof. Dr. Karomani, M.Si., yang hadir membuka kegiatan sekaligus menjadi pembicara menyampaikan, bahasa dan budaya merupakan salah satu identitas Provinsi Lampung yang wajib dipelihara dan dikembangkan baik formal maupun nonformal.

Bahasa Lampung sudah dipelajari sejak tahun 1994. Artinya hampir 27 tahun pelaksanaan pembelajaran tersebut diberikan mulai jenjang sekolah dasar hingga perguruan tinggi.

Tercatat di nusantara ini, dari 718 bahasa daerah hanya 17 aksara yang menyertai keberadaan bahasa daerah, di antaranya aksara Lampung. Budaya Lampung termasuk yang dicatat dalam sejarah, eksis, dalam ranah budaya bangsa Indonesia.

Lebih lanjut Karomani memaparkan, Universitas Lampung baru saja membuka program studi (prodi) Pendidikan Bahasa Lampung setelah 14 tahun berjuang.

Untuk menyempurnakan prodi tersebut, akan dibentuk tim yang mengelaborasi kurikulum pendidikan bahasa Lampung. Terlebih dengan semangat Kampus Merdeka – Merdeka Belajar, harus dirumuskan kurikulum bahasa Lampung bersama-sama para praktisi.

Di sisi lain, sudah ada upaya yang dilakukan FMIPA dan FT Unila yakni membuat aksara Lampung secara digital. Oleh karena itu para akademisi harus berkolaborasi dengan para praktisi menghasilkan temuan-temuan baru yang justru berasal dari luar Prodi Bahasa Lampung.

Karomani melanjutkan, mengapa adat budaya perlu dipertahankan karena di dalamnya ada nilai-nilai yang sangat berharga yang berbeda dari nilai budaya di luar.

“Kita harus bangga punya prinsip piil pasingri, sakai sambayan. Saya tafsirkan jika kita menerapkan nilai-nilai itu maka radikalisme dan terorisme tidak akan berkembang di bumi nusantara, termasuk di bumi Lampung,” ujarnya.

Halaman
123
Penulis: Advertorial Tribun Lampung
Editor: Advertorial Tribun Lampung
Sumber: Tribun Lampung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved