Bandar Lampung
119 Guru Honorer Ikuti Tryout Persiapan Seleksi PPPK
Sebanyak 119 guru honorer mengikuti tryout persiapan seleksi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) yang digelar PGRI Lampung.
Penulis: Bayu Saputra | Editor: Reny Fitriani
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG - Sebanyak 119 guru honorer mengikuti tryout persiapan seleksi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) yang digelar PGRI Lampung, Rabu 24 Maret 2021.
Ketua PGRI Provinsi Lampung Suharto mengatakan, dengan tryout ini ingin membantu para calon PNS mendapatkan informasi yang akurat.
Sehingga apa saja yang akan dihadapi nanti saat tes PPPK termasuk soal, bisa menjawab apa yang diujikan.
"Minimal mereka bisa mendekati apa yang diinginkan, seleksi itu harus berkompetisi, " kata Suharto yang juga Kepala SMA Negeri 9 Bandar Lampung ini.
Tryout tersebut nantinya bisa mengarahkan desiminasi yang masif dan jangan ada yang punya persepsi yang tua itu diutamakan.
Sedangkan yang muda pasti akan mempertanyakan tapi semua itu harus bisa melewati tes baru bisa menjadi PPPK.
Harapannya peserta memiliki kesiapan yang matang dan utamanya mental.
Tapi tryout ini tidak menjamin bahwa guru itu telah siap, akan tetapi minimal guru itu terbuka secara teknisnya.
Kalau sebelumnya guru itu tidak memegang laptop pada hari ini mereka tryout harus mampu mengoperasikan laptop atau komputer.
Selain itu juga PGRI melantik pengurus DKGI (Dewan Kehormatan Guru Indonesia) PGRI Lampung, Perempuan PGRI, Smart Learning and Character Center (SLCC) PGRI Lampung.
Semua kegiatan yang dilakukan hari ini tetap menerapkan protokol kesehatan (prokes) yang ketat, mulai dari pengecekan suhu tubuh, memakai masker, adanya tempat cuci tangan dan duduk juga berjarak.
Wakil Sekretaris Jenderal Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Jejen Musfah mengatakan bahwa peserta tryout itu harus bisa secara teknis mengoperasikan komputer.
Wajib seorang guru itu mampu untuk mengoperasikan komputer hingga bagaimana tahapannya.
Semua guru itu harus dibekali dengan kemampuan memiliki bidang keahlian digitalisasi.
"Kemudian peserta juga harus termotivasi, karena kesiapan mental juga diperlukan, " kata Jejen