Breaking News:

Universitas Lampung

Tim Konsorsium Unila Lakukan Serah Terima Rumah Konservasi di Dusun Margahayu

Universitas Lampung (Unila) melalui Tim Konsorsium Unila-ALeRT menyelenggarakan serah terima rumah konservasi di Dusun Margahayu Desa Labuhan Ratu VII

ist
Universitas Lampung (Unila) melalui Tim Konsorsium Unila-ALeRT menyelenggarakan serah terima rumah konservasi di Dusun Margahayu Desa Labuhan Ratu VII, Kecamatan Labuhan Ratu, Lampung Timur, Selasa, 6 April 2021. 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, LAMPUNG TIMUR - Universitas Lampung (Unila) melalui Tim Konsorsium Unila-ALeRT menyelenggarakan serah terima rumah konservasi di Dusun Margahayu Desa Labuhan Ratu VII, Kecamatan Labuhan Ratu, Lampung Timur, Selasa, 6 April 2021.

Rumah konservasi beserta pengelolaan diserahkan secara simbolis oleh Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerja Sama, dan TIK Unila Prof. Ir. Suharso, S.Si., Ph.D., kepada perwakilan Pemerintah Desa Labuhan Ratu VII, Sumarno, Kepala Desa Labuhan Ratu VII.

Penyerahan rumah konservasi menandai berakhirnya kegiatan pendampingan oleh Tim Konsorsium Unila-ALeRT pada Maret 2021 yang merupakan hasil komponen wisata desa Unila berjudul “Pengembangan Produk Ekonomi Kreatif dalam Mendukung Ekowisata yang Berkelanjutan di Dua Desa Penyangga, Brajasari dan Labuhan Ratu VII”.

Kegiatan ini berada di bawah naungan Program Tropical Forest Conservation Action (TFCA) for Sumatera dan Konsorsium Unila ALeRT.

Penanggung jawab Konsorsium Unila-ALeRT Dra. Elly Lestari Rustiati, M.Sc., menyampaikan, rumah konservasi pertama kali dibangun pada tahun 2014 dengan luas 48 meter persegi oleh tim Unila melalui program TFCA Sumatera Konsorsium ALeRT Unila, dengan mendapatkan hak-hak guna lahan seluas 1.250 meter persegi dari Desa Labuhan Ratu VII.

Pada wilayah tersebut dibangun sebuah gedung yang bisa dimanfaatkan sebagai pusat edukasi konservasi dan tempat pertumbuhan bagi masyarakat Desa Labuhan Ratu VII.

Tahun 2019 dan 2020 di bawah komponen Unila, Konsorsium Unila-ALeRT membangun rumah konservasi dengan melakukan perluasan dan renovasi seluas 72 meter persegi beserta peningkatan fasilitas sekaligus pembangunan sumur bor sebagaimana permintaan masyarakat desa setempat.

Tim Unila juga memasang instalasi listrik untuk menunjang operasional kegiatan pada rumah konservasi tersebut. Rumah Konservasi dibangun dengan hibah yang dilaksanakan Tim Konsorsium Unila ALeRT melalui TFCA For Sumatera, selain bidang wisata minat khusus dalam kawasan konservasi Taman Nasional Waykambas (TNWK) oleh ALeRT  bersama-sama pendampingan tim Unila melalui pemberdayaan masyarakat di dua desa yang berbatasan langsung dengan kawasan TNWK.

Pelaksanaan program juga merupakan wujud mitigasi konflik secara tidak langsung, karena seperti yang diketahui Desa Labuhan Ratu VII memiliki sejarah panjang terkait konflik satwa antara gajah sumatra dan masyarakat sekitar.

Kepada semua pihak terkait yang telah mendukung terlaksananya program tim Unila Konsorsium Unila – ALeRT, Elly mengucapkan apresiasi dan terima kasih. Ia pun berharap, penyerahan kembali rumah konservasi ini dapat dimanfaatkan untuk kepentingan wisata masyarakat Desa Labuhan Ratu VII.

“Kami dari pihak Universitas Lampung melalui komponen wisata desa konsorsium Unila-ALeRT, bermaksud menyerahkan kembali rumah konservasi beserta pengelolaannya kepada Pemerintah Desa Labuhan Ratu VII. Supaya dapat digunakan dan dimanfaatkan bagi kepentingan kegiatan edu wisata konservasi maupun kegiatan lainnya,” ujarnya.

Penyerahan kembali rumah konservasi, menurut Prof. Suharso, dilakukan agar masyarakat Labuhan Ratu VII bisa mandiri mengelola tempat konservasi dan wisata yang sudah dikembangkan Tim Unila Konsorsium Unila- ALeRT TFCA Sumatera.

Masyarakat juga diharapkan bisa memanfaatkan lingkungan sekitar sehingga mampu menghentikan konflik dan menciptakan destinasi wisata yang nyaman bagi para wisatawan sekaligus menjadi pusat riset unggulan dunia. Seperti yang sampai saat ini masih rutin dilakukan beberapa perguruan tinggi di Australia.

“Jadi bagian dari edukasi pendidikan untuk pendidikan ilmu-ilmu hayati, perlindungan gajah Sumatra, sehingga konflik bisa dihindari,” katanya.

Serah terima rumah konservasi juga dihadiri ketua Pokdarwis Labuhan Ratu VII, perwakilan TFCA for Sumatera, perwakilan Balai TNWK, kepala Desa Labuhan Ratu VII beserta jajaran, camat Labuhan Ratu, kepala Dinas Pariwisata Lampung Timur. Agenda dilanjutkan dengan diskusi serta penyerahan piagam dan plakat.(*)

Penulis: Advertorial Tribun Lampung
Editor: Advertorial Tribun Lampung
Sumber: Tribun Lampung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved