Breaking News:

Lampung Tengah

Mengenal Acara Adat Angken Muwakhei Dalam Tradisi Masyarakat Adat Lampung

Tradisi Angken Muwaghei/Angkon Muwakhi, merupakan salah satu dari adat Lampung yang merupakan tradisi pengangkatan saudara di Lampung

Penulis: syamsiralam | Editor: soni
tribun lampung/syamsir alam
Prosesi acara adat Lampung Angken Muwakhei antara Rosim Nyerupa dan Muchlisi. 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, LAMPUNGTENGAH - Mengenal acara adat Lampung Angken Muwakhei (angkat saudara) sebagai salah satu tradisi leluhur yang dipertahankan oleh pemuda di Kabupaten Lampung Tengah.

Tradisi Angken Muwaghei/Angkon Muwakhi, merupakan salah satu dari adat Lampung yang merupakan tradisi pengangkatan saudara di Lampung, menunjukkan sebuah komitmen persaudaraan bagi yang melaksakannya. 

Komitmen persaudaraan tersebut setelah dilaksanakan, dipupuk dengan mengedepankan beberapa nilai kebaikan di dalamnya, yakni seandanan (saling merawat), sebalakkan (saling membesarkan), setinukan (saling memperhatikan) dan lain sebagainya.

Rosim Nyerupa sebagai salah satu tokoh pemuda dari Buay Nyerupa yang merupakan salah satu kebudayaan yang ada di dalam Konfederasi Adat Pepadun Abung Siwo Migo, mencakup Kampung Komering Putih, Kampung Komering Agung dan Kampung Fajar Bulan di Kecamatan Gunungsugih.

Menurutnya, kegiatan Angken Muwakhei yang ia gelar bersama Briptu Muchlisi yang merupakan ajudan Kapolresta Bandar Lampung, beberapa waktu lalu, sebagai bentuk tanggungjawab pemuda dalam menjaga adat istiadat mereka.

Berdasarkan hasil musyawarah keluarga besar dan penyimbang adat setempat, Rosim Nyerupa dianugerahi gelar Rajo Pengiran sedangkan Briptu Muchlisi merupakan putera kandung dari Suttan Buay Nyerupa, penyimbang adat Marga Buay Nyerupa.

Baca juga: Lokasi Kedatun Keagungan, Rumah Adat Lampung di Bandar Lampung

Di dalam adat setempat, Rosim Nyerupa berasal dari Bilik Bujung sedangkan Bripda Muchlisi dari berasal dari Bilik Ghabow. 

Bilik Ghabow dan Bilik Bujung merupakan dua dari kelima bilik yang terdapat dikesatuan adat Buay Nyerupa Abung Siwo Migo. 

"Prosesi adat Angken Muwakhei disaksikan oleh penyimbang adat setempat. Muwakhi ini menyerahkan daw (uang adat) sebesar Rp 240 ribu sebagai salah satu aturan adat yang berlaku. Angken Muwakhei ini berlaku untuk satu generasi atau satu keturunan diantara kami," terang Rosim Nyerupa, Rabu (23/6/2021).

Dijelaskan Rosim, adat Muwakhi dilangsungkan disebabkan oleh hubungan baik dalam pertemanan antara dirinya dan Briptu Muchlisi yang sudah terjalin sejak zaman kanak-kanak.

Halaman
12
Sumber: Tribun Lampung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved