Apa Itu

Apa Itu Hujan dan Kondensasi yang Jatuh dari Awan

Berikut ini penjelasan apa itu hujan dan proses kondensasi yang jatuh ke permukaan bumi, temukan penjelasannya pada artikel ini.

Tayang:
Editor: Hanif Mustafa
imagui.eu
Ilustrasi, berikut ini penjelasan apa itu hujan. 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID - Simak berikut ini adalah penjelasan apa itu hujan, simak pengertian hujan.

Musim hujan adalah satu di antara dua musim yang dimiliki oleh Indonesia.

Meski seringkali kata ini terdengar dalam keseharian, sudah tahukah kamu mengenai apa itu hujan?

Tidakkah kamu penasaran bagaimana hujan itu terbentuk hingga akhirnya turun ke bumi?

Untuk mengetahuinya, simak penjelasan berikut.

Pengertian hujan

Hujan adalah peristiwa jatuhnya titik-titik air dari atmosfer ke permukaan bumi.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, hujan memiliki dua arti.

Pertama, titik-titik air yang berjatuhan dari udara karena proses pendinginan dan kedua, adalah bentuk kiasan berupa yang datang dan sebagainya banyak-banyak.

Sementara itu, dilansir dari laman resmi National Geographic, pengertian hujan berarti presipitasi cair atau air yang jatuh dari langit.

Baca juga: Apa Itu Samudra, Berikut Pengertiannya

Presipitasi cair sendiri bermakna proses pengendapan, baik dari dalam larutan maupun dari udara permukaan ke permukaan bumi.

Sedangkan menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), hujan merupakan suatu bentuk presipitasi atau endapan dari cairan atau zat padat yang berasal dari kondensasi yang jatuh dari awan menuju permukaan bumi.

Secara umum, hujan juga merupakan sumber air tawar bagi banyak sungai, danau, atau akuifer (lapisan kulit bumi berpori yang dapat menahan air dan terletak di antara dua lapisan yang kedap air) yang tidak dapat diakses dengan mudah.

Proses terjadinya hujan

Ada serangkaian tahapan dalam proses terjadinya hujan, yang sudah Tribunlampung rangkum dari berbagai sumber:

1. Penguapan (Evaporasi)

Evaporasi adalah proses penguapan air laut, sungai, danau, begitu juga dengan tumbuhan, yang mengeluarkan uap air ke udara.

Uap air tersebut, berasal dari permukaan bumi yang naik, dan berkumpul di udara yang menguap akibat panasnya sinar matahari.

Perubahan yang terjadi adalah zat cair pada air berubah menjadi gas berupa uap air yang memungkinkan untuk naik ke atmosfer bumi.

Baca juga: Apa Itu Sesar dalam Geografi, Berikut Penjelasannya

Semakin tinggi suhu panas matahari, maka semakin banyak pula air yang berubah menjadi uap dan naik ke permukaan atmosfer bumi.

2. Pengembunan (Kondensasi)

Setelah uap naik ke permukaan atmosfer pada ketinggian tertentu, uap tersebut akan mengalami proses kondensasi atau pengembunan.

Kondensasi sendiri berarti perubahan uap air atau benda gas menjadi benda cair pada suhu udara di bawah titik embun.

Perubahan ini terjadi karena suhu sekitar awan lebih rendah dari panas matahari, sehingga membentuk titik embun air.

Suhu udara yang semakin tinggi membuat titik-titik embun semakin banyak dan memadat lalu membentuk awan.

Semakin banyak uap yang naik dan memadat, semakin tebal dan hitam pula awan yang terbentuk.

Kondensasi ini pun bisa berupa partikel debu, garam, asap, atau polusi.

Kondensasi yang berwarna cerah, seperti debu merah atau ganggang hijau bisa menyebabkan hujan berwarna.

Namun karena kondensasi itu ukurannya sangat kecil, warnanya pun jarang terlihat.

3. Presipitasi

Presipitasi adalah tahapan terakhir dari proses terjadinya hujan.

Dalam proses ini, awan akan mencair akibat dari adanya pengaruh suhu udara yang tinggi.

Pada tahap inilah hujan terjadi dan membasahi bumi.

Awan-awan yang telah terbentuk pada tahap sebelumnya akan dibawa angin, sehingga terjadinya perpindahan tempat secara horizontal.

Proses perpindahan awan tersebut disebut dengan adveksi.

Adveksi ini memungkinkan awan menyebar dan menyatu dengan awan lainnya sehingga ukurannya pun bisa menjadi semakin besar.

Butiran es yang ada pada awan kemudian akan ditarik oleh gaya gravitasi bumi lalu menyebabkan turunnya hujan, seperti di daratan, lautan, sungai, danau maupun tanah.

Hujan yang turun ke dalam tanah, nantinya akan meresap menjadi air tanah yang kemudian akan keluar melalui sumur.

Namun, ternyata tidak semua tetesan hujan akan jatuh menyentuh tanah.

Ada juga yang akan kembali ke awan karena air menembus lapisan atmosfer yang lebih hangat dan berujung menguap.

Umumnya, tetesan hujan yang turun ke tanah memiliki memiliki diameter 0,5 milimeter (0,02 inci), bahkan bisa lebih besar. Sedangkan untuk gerimis ukurannya kurang dari 0,5 milimeter.

Dalam ukuran tersebut, tetesan air tersebut akan jatuh dengan kecepatan 0,01-5 cm/detik, sedangkan kecepatan aliran udara yang jauh lebih tinggi menyebabkan tetesan air tidak jatuh ke permukaan bumi.

Kecepatan turunnya hujan pun tergantung dari wilayahnya. Daerah gurun yang kering akan jauh lebih lambat dibandingkan dengan hutan hujan tropis.

Sedangkan di daerah sub tropis, apabila udara di sekitar awan suhunya terlalu rendah, yakni berkisar minus 0 derajat Celcius, presipitasi memungkinkan terjadinya hujan salju.

Siklus pada proses terjadinya hujan ini terus berulang.

Itulah penjelasan mengenai apa itu hujan dan proses terjadinya hujan. ( Tribunlampung.co.id / Virginia Swastika )

Baca apa itu lainnya

Sumber: Tribun Lampung
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved