Bandar Lampung
Smart Women, Cerita Fitriani Rintis Bamieta dan Mieliar di Bandar Lampung
Merintis bisnis kuliner dari nol dirasakan oleh Owner Bamieta dan Mieliar Fitriani. Bagaimana cerita Fitriani rintis Bamieta dan Mieliar?
Penulis: Jelita Dini Kinanti | Editor: Kiki Novilia
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG - Merintis bisnis kuliner dari nol dirasakan oleh Owner Bamieta dan Mieliar Fitriani. Bagaimana cerita Fitriani rintis Bamieta dan Mieliar di Bandar Lampung?
Wanita kelahiran Bukit Kemuning 23 Maret 1993 itu mengatakan, untuk merintis bisnisnya Fitriani dan suaminya harus mengumpulkan uang untuk modal bisnis sedikit demi sedikit dari penghasilan suaminya sebagai driver online.
Demi bisa mengumpulkan uang untuk modal bisnis, uang belanja Fitriani saat itu hanya Rp 200 ribu dalam satu minggu.
"Agar modal bisnis bisa lekas terkumpul, saya dan suami rela menjual cincin kawin kami. Tapi kami tidak masalah, karena memang kami sudah niat untuk bisnis karena kami ingin merubah nasib sekaligus ingin bisa memenuhi kebutuhan anak kami kedepannya," kata Fitriani.
Setelah modal bisnis terkumpul, Fitriani dan suaminya pun memutuskan untuk menyewa ruko di Sukarame yang digunakan untuk membuka Bamieta tahun 2018.
Baca juga: Ditinggal Buang Air Kecil, Motor Milik Remaja di Bandar Lampung Raib
Ketika menyewa ruko, Fitriani dan suaminya mendapat keringanan dari pemilik ruko untuk menyewa ruko setahun karena modal mereka yang belum banyak.
Awal Bamieta buka, Fitriani dan suaminya hanya memiliki satu karyawan yang membantu Fitriani di produksi, dan satu karyawan yang membantu suaminya berjualan dibagian depan.
"Saya masih ingat saat saya produksi, saya sambil menggendong anak saya yang umurnya belum ada satu tahun dan belum bisa jalan. Menggendongnya gantian dengan suami saya karena memang kami tidak punya pengasuh atau ART," ujar Fitriani.
Bakso yang dijual saat itu hanya bakso urat, telur, judes (isi cabai), keju, dan mozarela.
Tidak lama kemudian juga menjual pilihan kuah bakso pedas, tom yam, dan pecel.
Baca juga: Penumpukan Antrean Vaksinasi di RSUDAM, Polresta Bandar Lampung Turun Tangan
Semua yang dijual adalah buatan Fitriani sendiri.
Saat bakso-bakso mulai dijual, bakso-bakso itu tidak langsung banyak terjual.
Bahkan ada yang komplain seperti bakso basi, keasinan dan sebagainya.
Komplain tersebut tidak membuat Fitriani dan suaminya menyerah. Justru mereka berusaha mencari tahu apa yang menyebabkan komplain itu.
Setelah tahu penyebabnya dan diatasi, lama kelamaan, komplain itu tidak ada lagi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lampung/foto/bank/originals/smart-women-cerita-fitriani-rintis-bamieta-dan-mieliar-di-bandar-lampung.jpg)