Bandar Lampung

Mitra Bentala dan Walhi Dorong Pelaku Pencemaran Pesisir Lampung Segera Terungkap

Mitra Bentala dan juga Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Lampung mendorong penanganan pencemaran limbah yang diduga aspal

Penulis: sulis setia markhamah | Editor: soni
Tribunlampung.co.id/Deni Saputra
Warga di sekitar Pantai Sebalang Tarahan, Lampung Selatan menunjukkan limbah diduga aspal, Jumat 10 September 2021. Mitra Bentala Dorong Pemerintah Usut Tuntas Pencemaran Limbah Diduga Aspal di Pantai Lampung 

 TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG - Mitra Bentala dan juga Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Lampung mendorong penanganan pencemaran limbah yang diduga aspal di sepanjang bibir pantai Sebalang Lampung Selatan hingga Pantai Kotaagung Tanggamus segera menemukan titik terang terutama pelaku yang melakukan pencemaran.

Direktur Mitra Bentala Mashabi meminta agar limbah yang diduga aspal tersebut diuji untuk memastikan jenis limbahnya. "Observasi, pengamatan, dan mitigasi langsung oleh pemerintah memang sudah seharusnya dilakukan terkait temuan limbah tersebut," kata Mashabi saat dikonfirmasi Tribunlampung.co.id, Rabu (15/9).

Bahkan pihaknya telah menerima informasi dan laporan kejadian serupa hampir dua minggu lalu yang terjadi di sepanjang teluk Pantai Pidada, Pesawaran. Bentuk limbah seperti aspal.

Mitra Bentala berharap penelusuran terkait pihak-pihak mana yang telah melakukan pembuangan limbah segera terungkap. "Menurut saya pembuangan limbah itu diduga disengaja oleh pihak tertentu mungkin (melalui) kapal atau apa. Saya nggak tau memproduksi apa kemudian buang limbahnya ke laut," bebernya.

Baca juga: Walhi Desak Kepolisian Turut Usut Tuntas Pencemaran Limbah di Bibir Pantai Lampung

Saat sudah ditemukan siapapun pelakunya, Mitra Bentala juga mendorong pemerintah mengusutnya secara tuntas. "Karena itu menyangkut soal pencemaran laut yang berdampak pada ekosistem laut dan nelayan," imbuh dia.

Diakuinya, pihaknya sudah mengonfirmasi langsung ke masyarakat di Punduh Pidada, Pesawaran saat limbah tersebut ditemukan di sana. "Masyarakat mengatakan menganggu aktivitas mereka, menganggu nelayan yang beraktivitas mencari ikan," tutur dia.

"Saya takutnya nanti (limbah) B3 (bahan berbahaya dan beracun) pula," tukasnya.

Senada, Direktur Eksekutif Wali Lampung Irfan Tri Mursi berharap tindakan cepat dari pemerintah dan kepolisian untuk menyelidiki asal muasal dan juga pelaku pembuangan limbah tersebut segera terungkap. Terlebih menurutnya ini bukan kasus pertama kali yang terjadi di perairan Lampung.

"Setahun yang lalu pernah terjadi di pantai timur Lampung dan sekarang di beberapa lokasi. Limbahnya kurang lebih sama dan bisa saja berasal dari akrivitas bongkar muat kapal minyak ataupun pembersihan lambung kapal tanker," beber Irfan.

Dengan adanya limbah di pesisir laut tersebut ini bisa dikategorikan pembuangan limbah tanpa izin dan masuk ke dalam tindak pidana.

"Belum lagi pengaruhnya terhadap lingkungan terutama ekosistem wilayah pesisir. Yang kasus tahun lalu pun belum ada kejelasan sampai saat ini, padahal bukan hal yang sulit bagi pemerintah dna kepolisian untuk mengusut darimana sumber limbah tersebut," jelasnya lebih lanjut.

Pelaku pembuangan limbah menurutnya dari pelaku usaha sektor dan aktivitas yang sama dengan kasus tahun lalu. Walhi Lampung juga turut mendorong DLH mengambil langkah tegas.

"DLH Lampung dalam hal ini jangan hanya mengambil dan menguji sampel limbah saja,  tetapi harus bisa memastikan sumber limbah darimana. DLH punya kewenangan untuk melakukan penyelidikan bahkan sampai ke penuntutan," tandasnya.

Mitra Bentala juga mendorong pemerintah daerah melalui dinas terkait bertindak cepat menangani pencemaran limbah yang diduga aspal di sepanjang bibir pantai Sebalang Lampung Selatan hingga Pantai Kotaagung Tanggamus.

Sebelumnya, sepanjang Bibir Pantai Sebalang yang berada di Tarahan, Lampung Selatan dipenuhi benda yang diduga limbah. Bahkan, dari pantauan wartawan, Jumat (10/9/2021), beberapa titik diantaranya itu terlihat berada hingga belasan meter dari bibir pantai.

Limbah yang berserakan ini, terlintas terlihat seperti aspal hitam dengan teksturnya yang menyerupai minyak yang telah menggumpal. Melekat juga bersamanya sampah-sampah yang terbawa arus laut seperti plastik, karang dan kayu-kayuan.

Warga setempat mengaku, saat ini sudah jalan pekan ke dua untuk limbah tersebut terhitung sampai di darat pesisir itu. "Kurang lebih ada mungkin ya satu sampai dua Minggu. Yang pasti datangnya malam hari, karena saat pagi, tiba-tiba sudah ada limbah ya," kata Irwan, warga setempat.

"Dampaknya tidak tahu ya, cuma berpengaruh ke wisatawan yang mau datang ke pantai wisata. Karena kan dia hitam di pinggiran pantainya," imbuhnya.

Kondisi serupa juga terjadi di Pantai Kotaagung, Tanggamus.( Tribunlampung.co.id/ Sulis Setia Markhamah )

Sumber: Tribun Lampung
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved