Breaking News:

Wawancara Eksklusif

Cerita Nelayan Rajungan Lampung Hadapi Tantangan di Masa Pandemi Covid-19

Provinsi Lampung menyumbang produksi rajungan nasional hingga 15 persen per tahun secara konsisten.

Tribunlampung.co.id / Sulis Setia Markhamah
Wawancara eksklusif Tribunlampung.co.id dengan Ketua Forum Nelayan Rajungan Lampung Miswan, Sabtu (11/9/2021). 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG - Provinsi Lampung menyumbang produksi rajungan nasional hingga 15 persen per tahun secara konsisten.

Berada di pesisir timur, mencakup Kabupaten Tulangbawang, Lampung Tengah, dan Lampung Timur.

Seperti apa kondisi di lapangan terkait tangkapan rajungan ini, terutama tantangan pada masa pandemi Covid-19?

Berikut cuplikan wawancara eksklusif Tribunlampung.co.id dengan Ketua Forum Nelayan Rajungan Lampung Miswan, Sabtu (11/9/2021).

Baca juga: 47 Nelayan Hilang Seusai Kapal Dihantam Ombak di Kalimantan Barat

Bagaimana perkembangan tangkapan rajungan saat ini? Termasuk setelah masuk pasar ekspor?

Kalau kondisi saat ini memang berkurang karena faktor cuaca. Selain memang dari tahun ke tahun, kenaikan atau penurunan hasil tangkapan rajungan pasti terjadi.

Hanya, di tahun ini berkurangnya lebih drastis. Padahal mau diekspor ataupun tidak, jika penangkapannya ramah lingkungan, tentu tidak seberapa memengaruhi (hasil tangkapan).

Pada masa pandemi ini, apakah ikut terdampak?

Tidak terpengaruh pandemi atau tidak, namun adanya nelayan yang menggunakan alat tidak ramah lingkungan dalam melakukan penangkapan rajungan, keberlanjutannya mempengaruhi hasil tangkapan.

Di lokasi penangkapan ada tempat untuk peneluran hingga pembesaran rajungan, itu yang harusnya dipanen untuk waktu tertentu, terkadang sebelum panen sudah diacak-acak oleh alat-alat tangkap yang tidak ramah lingkungan tadi.

Apakah masih ditemukan nelayan menggunakan cara yang tidak direkomendasikan dalam menangkap rajungan?

Masih saja ditemukan nelayan yang tidak menggunakan alat ramah lingkungan saat menangkap rajungan. Alat tersebut berjalan di dasar laut mengenai karang dan pasir sehingga menganggu (ekosistem rajungan).

Padahal alat ini sebelumnya sudah dilarang untuk dipergunakan pada zaman Ibu Susi. Sementara kalau kami menggunakan alatnya berupa jaring yang tidak berjalan, hanya menyasar rajungan yang melintas di jaring yang telah dipasang.

Simak berita selengkapnya di koran Tribun Lampung edisi Minggu (12/9/2021).

( Tribunlampung.co.id / Sulis Setia Markhamah )

Sumber: Tribun Lampung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved