Kesehatan
Halo Dokter, Apa Itu Tuberkulosis dan Seperti Apa Gejala Klinisnya
Tuberkulosis (TBS) masih menjadi menjadi penyakit yang banyak diderita masyarakat di daerah tropis dan panas, termasuk di Indonesia.
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID – Tuberkulosis (TBS) masih menjadi menjadi penyakit yang banyak diderita masyarakat di daerah tropis dan panas, seperti Afrika dan Asia Tenggara. Termasuk di Indonesia.
TBC merupakan penyakit paru-paru yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis.
TBC sangat mematikan dan penyakit pernapasan yang menular. Biasanya rentan menyerang penduduk dengan sistem sanitasi dan lingkungan yang buruk.
Disebutkan WHO, tuberkulosis tergolong penyakit tertua. Penyakit ini sudah lama menginfeksi manusia bertahun-tahun lamanya.
Penyebab TBC sebelumnya tak diketahui sampai akhirnya dr Robert Koch melaporkan penemuannya terkait bakteri M. tuberculosis pada 1882.
Bakteri tersebut menular melalui saluran udara ketika bersin, batuk, atau meludah.
Baca juga: Halo Dokter, Apa Itu Asfiksia dan Seperti Apa Gelajalanya
Meski umumnya menyerang paru-paru, penyakit ini juga bisa menyebar ke area tulang, kelenjar getah bening, sistem saraf pusat, jantung, serta organ lain.
TBC dapat menyerang siapa saja dan di mana saja. Sekitar 90% di antaranya merupakan orang dewasa dan lebih rentan menyerang pria.
Selain itu, orang-orang yang mengalami kurang gizi, diabetes, gemar merokok dan minum minuman beralkohol, serta terinfeksi HIV juga memiliki risiko yang tinggi terhadap infeksi penyakit ini.
Bahkan pengidap HIV memiliki risiko 18 kali lebih mungkin terserang TBC aktif.
Pada penderita TBC yang punya sistem kekebalan tubuh lemah, risiko jatuh sakit akan begitu tinggi dan perkembangan bakterinya juga semakin pesat.
Secara global, WHO melaporkan total ada sebanyak 9,9 juta orang yang menderita TBC pada 2020.
Baca juga: Halo Dokter, Apa Itu Tuberkulosis Penyakit yang Menyerang Sistem Pernapasan
Dari angka tersebut, tercatat jumlah penambahan kasus baru pada 2020 tak sebanyak tahun sebelumnya.
Pasalnya, terjadi penambahan kasus baru sebesar 7,1 juta pada 2019. Sementara pada 2020, penambahan kasus baru berkisar pada 5,8 juta orang.
Meski dari segi penambahan kasus baru terjadi penurunan, tetapi angka kematian justru meningkat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lampung/foto/bank/originals/cegah-tbc_20180327_153352.jpg)