Kesehatan
Halo Dokter, Apa Itu Bruntusan dan Jenisnya
Halo Dokter, berikut penjelasan apa itu beruntusan dan bedanya dengan jerawat. Bruntusan merupakan istilah dikenal luas untuk menyebut kondisi kulit.
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG – Simak berikut ini penjelasan apa itu beruntusan dan jenis-jenis dari bruntusan.
Bruntusan merupakan istilah yang dikenal luas untuk menyebut kondisi kulit yang tidak rata atau ada benjol-benjol kecil.
Gelaja bruntusan ini dapat menyerang siapa saja, baik orang dewasa maupun anak-anak.
Lalu, apa itu bruntusan dalam istilah medis atau kesehatan?
Owner Mooi Aesthetic Clinic dr Harry Putri Wulandari mengatakan, bruntusan sebenarnya bukan bahasa medis dan bukan suatu diagnosis.
Baca juga: Halo Dokter, Apa Itu Jerawat dan Penyebabnya?
"Bruntusan adalah istilah yang sering digunakan oleh masyarakat untuk menunjukkan kondisi kulit yang tidak rata, berbenjol-benjol, bintik-bintik kecil, dan kasar," kata dr Putri, Jumat 29 Oktober 2021.
Jika mengalami bruntusan, segera datang ke klinik kecantikan untuk dilihat dan dilakukan pemeriksaan, apa sebenarnya bruntusan itu.
Sebab bruntusan ada banyak. Bisa jadi komedo, jerawat ringan, dermatitis atopik, dermatitis seboroik, dermatitis kontak alergi, dermatitits kontak iritan, dermatitis perioral, infeksi jamur, dan sebagainya.
"Ketika sudah tahu bruntusan itu apa, barulah dokter bisa mengatasi bruntusan itu. Misalnya kalau ternyata bruntusan itu adalah komedo, bisa diatasi dengan facial," ujar dr Putri.
Selain bisa mengatasi, dokter juga bisa menyarankan bagaimana cara mencegah bruntusan itu.
Baca juga: Halo Dokter, Cara Menghilangkan Stretch Mark pada Bagian Tubuh
Misalnya kalau penyebabnya adalah komedo, bisa dicegah dengan menggunakan makeup atau skincare yang tepat, rajin membersihkan wajah, dan facial sebulan satu kali.
Bruntusan paling sering adalah white head atau komedo putih. Penyebab komedo putih adalah sumbatan pada folikel pilosebaseus (pori) oleh sel kulit mati dan produksi sebum (minyak) yang berlebih.
Perbedaan dengan Jerawat
Melansir Kompas.com, Jerawat adalah kondisi kulit yang menyerang banyak area tubuh, seperti wajah, dada, punggung, dan lainnya.
Saat muncul, hal tersebut dapat menyebabkan bintik-bintik, kulit berminyak, hingga rasa sakit saat disentuh.
Tak jarang pula, kondisi ini dapat menyebabkan bekas luka serta tekanan emosional.
Mengutip Mayo Clinic, terdapat beberapa faktor utama yang bisa menjadi penyebab Jerawat.
Di antaranya, produksi minyak berlebih, folikel rambut tersumbat oleh minyak dan sel kulit mati, bakteri, hingga peradangan.
Tambahan, ada juga beberapa kondisi tertentu yang dapat memperburuk Jerawat.
Seperti, perubahan hormonal, penggunaan obat-obatan tertentu, konsumsi makanan yang kaya akan karbohidrat, hingga stres.
Biasanya, permasalahan kesehatan kulit ini banyak terjadi pada remaja yang masih mengalami masa pertumbuhan atau pubertas.
Dikutip dari riset ilmiah asal Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin tahun 2020, diperkirakan sebanyak 75% remaja di dunia memiliki masalah Jerawat.
Bahkan hampir 80 persen dari total penderita jerawat mengalami jenis akne vulgaris.
Akne vulgaris merupakan penyakit yang disebabkan karena peradangan folikel polisebasea kulit yang berperan memproduksi sebum.
Sementara itu di Indonesia, prevalensi penderita jerawat berkisar 80-85% pada remaja.
Umumnya, masalah kulit tersebut terjadi pada rentang usia 15-18 tahun.
Namun kemungkinan untuk terjadi pada orang dewasa juga tidak tertutup.
Disebutkan bahwa ada 12 persen kasus jerawat yang terjadi pada wanita usia di atas 25 tahun dan 3 persen lainnya terjadi pada usia 35-44 tahun.
Jenis jerawat
Dikutip dari Kompas.com, setidaknya terdapat 10 jenis jerawat, antara lain:
1. Whitehead
Tipe jerawat ini terjadi saat lapisan tipis kulit menutupi pori-pori dengan kulit mati atau kotoran.
Tertutupnya pori-pori kulit itu akan menciptakan gumpalan bulat putih pada kulit.
Ada banyak faktor yang bisa menyebabkan jerawat jenis ini.
Akan tetapi, paling umum disebabkan karena minyak, sel kulit mati, serta perubahan hormonal.
2. Blackhead
Jika whitehead adalah jerawat yang berwarna putih, blackhead atau yang juga disebut dengan komedo ini justru berwarna hitam.
Warna hitamnya tersebut disebabkan karena pori-pori tertutup lapisan kulit dan dibiarkan terbuka dan terkena udara.
3. Jerawat di zona T
Ini adalah jerawat yang umum terjadi di area dahi, hidung, dagu yang berada dalam formasi bentuk T.
Biasanya, jerawat ini muncul karena paparan polusi.
4. Jerawat hormonal
Jerawat jenis ini muncul karena adanya minyak berlebih yang dihasilkan hormon.
Penumpukan minyak tersebut akan menyebabkan pori-pori tersumbat dan menimbulkan jerawat.
5. Pustula
Pustula merupakan benjolan yang berisikan cairan atau nanah, hasil dari infeksi bakteri di pori-pori.
Tingkat keparahannya bervariasi, tergantung pada berapa banyak dan cepat jerawat tersebut terbentuk.
6. Papula
Kondisi ini biasa muncul dalam bentuk benjolan kecil berwarna merah.
Kemunculannya bisa berkelompok dan terasa menyakitkan.
7. Jerawat kistik
Disebutkan bahwa jerawat ini umum terjadi di bawah permukaan kulit dan terasa begitu menyakitkan.
Biasanya, jerawat ini disebabkan kareana adanya perubahan hormon.
8. Jerawat fulminans
Dokter kulit asal New York, Melissa Kanchanapoomi Levin mengatakan jenis jerawat ini ditandai oleh nodul dengan radang yang parah dan plak serta luka terbuka.
Umumnya banyak terjadi pada remaja laki-laki.
9. Nodul
Nodul merupakan bentuk jerawat yang butuh bantuan dokter untuk bisa mengatasinya.
Jerawat ini bisa bertahan selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan saat tak mendapatkan perawatan yang tepat/
Permasalahan kulit ini memiliki warna yang sama dengan kulit tetapi dapat berubah menjadi merah saat meradang.
10. Jerawat mechanica
Ahli dermatologi, Lily Talakoub mengatakan jerawat ini disebabkan karena panas dan gesekan.
Namun pengunaan perlengkapan olahraga atau pakaian basah, tekanan pada kulit dapat memunculkan jerawat tipe ini.
Gejala jerawat
Tanda atau gejala jerawat bisa bervariasi tergantung dengan jenis yang dialami serta tingkat keparahannya.
1. Whiteheads (pori-pori tersumbat tertutup)
2. Komedo (pori-pori tersumbat terbuka).
3. Benjolan kecil berwarna merah dan lunak (papula).
4. Pustula, berupa papula yang berisi nanah.
5. Benjolan besar, padat, nyeri, di bawah kulit (nodul).
6. Benjolan isi nanah di bawah kulit yang menyakitkan (lesi kistik).
Perawatan
Dalam perawatan jerawat, ada beberapa hal yang dapat dilakukan sesuai dengan faktor tertentu, misalnya usia, jenis jerawat, serta tingkat keparahan.
Berikut ini beberapa cara mengobati jerawat yang dikutip dari Kompas.com:
1. Cuci area bermasalah dengan pembersih yang memiliki bahan lembut.
2. Hindari produk tertentu yang menyebabkan iritasi.
3. Menggunakan obat jerawat yang mengandung benzoil peroksida.
4. Menggunakan krim.
5. Hindari kosmetik berminyak, sunscreen, concealer yang bisa memperburuk kondisi jerawat.
6. Hindari gesekan atau tekanan pada kulit.
7. Hindari menyentuh area rawan jerawat.
8. Mandi setelah aktivitas berat.
Ada juga beberapa perawatan medis yang bisa dicoba dalam mengobati jerawat, seperti obat topikal, obat oral, serta terapi.
Beberapa contoh obat topikal untuk jerawat adalah retinoid, antibiotik, asam azelaic, asam salisilat, dapson.
Sementara untuk obat oral, di antaranya antibiotik, kontrasepsi oral kombinasi, agen anti-androgen, juga isotertinoin.
Untuk terapi jerawat, hal tersebut dapat dilakukan melalui terapi cahaya, drainase dan ekstrasi, serta injeksi steroid.
Pencegahan
Agar tidak memunculkan atau memperburuk kondisi jerawat, Cleveland Clinic menyarankan beberapa hal:
1. Cuci wajah setiap hari dengan air hangat dan pembersih wajah berbahan ringan.
2. Rutin menggunakan pelembab.
3. Bagi yang hobi dandan, disarankan menggunakan produk nonkomedogenik dan hapus riasan di penghujung hari.
Baca juga: Halo Dokter, Apakah Panu Bisa Menular?
4. Menjauhkan tangan dari wajah untuk mencegah terjadinya jerawat pada kulit. ( Tribunlampung.co.id / Virginia Swastika / Jelita Dini Kinanti )
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lampung/foto/bank/originals/dr-harry-putri-wulandari-2.jpg)