Kesehatan

Halo Dokter, Cara Deteksi Gejala Malaria

Simak berikut ini penjelasan cara mendeteksi gejala malaria. Memang terlihat sepele, namun pengetahuan tentang gejala malaria sangat diperlukan.

Tayang:
Editor: Hanif Mustafa
Pixabay
Ilustrasi nyamuk. Halo Dokter, berikut ini penjelasan cara mendeteksi gejala malaria. 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID - Simak berikut ini penjelasan cara mendeteksi gejala malaria.

Memang terlihat sepele, namun pengetahuan tentang gejala malaria sangat diperlukan.

Agar saat terserang malaria bisa terdeteksi dan langsung mendapat perawatan.

Dikutip dari Web MD, Malaria adalah penyakit yang diakibatkan oleh parasit Plasmodium.

Parasit tersebut umum disebarkan oleh nyamuk Anopheles betina yang terinfeksi.

Baca juga: Halo Dokter, Apa Itu Kutu Badan, Penyebab dan Gejalanya

Kasus Malaria umum terjadi di negara beriklim tropis dan subtropis.

Dilaporkan World Health Organization (WHO), Malaria masuk dalam kategori penyakit yang dapat mengancam jiwa.

Pada 2019 saja, diperkirakan ada 229 juta kasus Malaria di seluruh dunia.

Angka tersebut naik sebanyak satu juta kasus dari tahun sebelumnya, yang mencapai 228 juta kasus Malaria.

Sementara angka kematiannya pada 2019 berkisar pada angka 409 ribu.

Baca juga: Halo Dokter, Apa Itu Disentri Amoeba dan Gejalanya

Dari banyaknya negara yang menjadi wabah Malaria, 94 persen kasus terjadi di Nigeria, Kongo, Tanzania, Burkino Faso, Mozambique, hingga Niger.

Penyakit ini banyak menyerang anak-anak di bawah usia 5 tahun.

Bahkan faktanya, angka kematian akibat Malaria pada anak-anak berada pada angka 67 persen atau setara dengan 274 ribu dari total kasus yang ada pada 2019.

Penyebab

Dilansir dari Web MD, terdapat dua jenis penyebab Malaria yang paling berbahaya, di antaranya:

1. P. falciparum, yang umum terjadi di Afrika dan menyebabkan kematian paling banyak di dunia.

Parasit ini berkembang biak dengan cepat dan mengakibatkan orang yang terinfeksi akan kehilangan darah serta penyumbatan pembuluh darah.

2. P. vivax, parasit yang umum ditemukan di luar sub-Sahara Afrika, terutama di Asia dan Amerika Latin.

Malaria juga dapat menyebar melalui paparan darah yang telah terinfeksi, seperti pada ibu terhadap janinnya; transfusi darah; berbagi jarum suntik.

Gejala

Dikutip dari Kompas.com, gejala Malaria berkembang dalam kurun waktu 10-30 hari setelah infeksi terjadi.

Dalam beberapa kasus, gejala Malaria meliputi:

1. Menggigil ringan hingga berat.

2. Demam tinggi melebihi angka 38 derajat Celcium.

3. Banyak berkeringat.

4. Sakit kepala.

5. Muntah.

6. Diare.

7. Sakit perut.

8. Anemia.

9. Kejang.

10. Koma.

11. Tinja berdarah.

Faktor risiko

Soal tingkat risiko begitu bergantung pada perubahan musim Malaria, serta tindakan pencegahan dari masing-masing negara,

Akan tetapi, terdapat beberapa golongan yang begitu rentan terinfeksi Malaria, di antaranya:

1. Bayi dan anak-anak.

2. Dewasa lanjut.

3. Wisatawan dari wilayah tanpa Malaria.

4. Ibu hamil dan janinnya.

Komplikasi

Apabila tidak ditangani dengan benar dan segera mungkin, hal tersebut dapat memperburuk gejala Malaria.

Berikut ini sejumlah komplikasi yang berhubungan dengan kematian Malaria.

1. Anemia berat, karena sel darah merah tak membawa oksigen yang cukup untuk disebarkan ke seluruh tubuh.

2. Malaria selebral, merupakan pembengkakan atau kerusakan otak akibat parasit yang memenuhi otak.

3. Masalah pernapasan, adanya cairan di paru-paru.

4. Gagal organ.

5. Gula darah rendah.

Pengobatan

Perawatan atau pengobatan Malaria tergantung pada beberapa hal, termasuk jenis parasit dan tingkat keparahan.

Dilansir dari Web MD, dokter umumnya akan memberikan obat-obatan yang terdiri dari:

1. Klorokuin atau hidroksiklorokuin.

2. Terapi kombinasi berbasis artemisinin (ACT).

3. Atovaquone-proguanil dan
artemeter-lumefantrine.

4. Meflokuin.

5. Artesunat.

Pencegahan

Menghubungi dokter dalam mendapatkan obat pencegahan Malaria dapat dilakukan saat akan berpergian ke daerah wabah Malaria.

Obat itu harus dikonsumsi sebelum, selama, dan setelah perjalanan berlangsung.

Tak hanya itu, ada pula beberapa cara menurunkan risiko terkena Malaria, antara lain:

1. Penggunaan obat nyamuk dengan DEET (diethyltoluamide) pada kulit.

2. Menggunakan kelambu atau tirai di tempat tidur, jendela, dan pintu.

3. Merawat pakaian atau kain lainnya dengan obat nyamuk permtrin.

Baca juga: Halo Dokter, Simak 4 Penyakit Pencernaan yang Kerap Menyerang

4. Mengenakan celana dan baju lengan panjang untuk menghindari gigitan nyamuk penyebab Malaria. ( Tribunlampung.co.id / Virginia Swastika )

Baca kesehatan lainnya

Sumber: Tribun Lampung
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved