Lampung Barat

Viral 1,5 Ton Tomat Dibuang, Begini Kata Bupati Lampung Barat

Kejadian itu turut mengundang reaksi dari Bupati Lampung Barat Parosil Mabsus. Menurut dia, harga tomat tidak terlalu anjlok.

Penulis: Nanda Yustizar Ramdani | Editor: Daniel Tri Hardanto
Tribunlampung.co.id / Nanda Yustizar Ramdani
Bupati Lampung Barat Parosil Mabsus seusai meninjau pembangunan jalan penghubung Kecamatan Sukau menuju Kecamatan Balik Bukit, Senin (28/3/2022). 

Tribunlampung.co.id, Lampung Barat - Bupati Lampung Barat Parosil Mabsus turut mengomentari aksi petani membuang 30 peti tomat yang sempat viral.

Peristiwa itu terjadi di Pekon Sebarus, Kecamatan Balik Bukit, Lampung Barat.

Dalam video yang beredar, tomat-tomat yang dibuang tersebut dipunguti oleh ibu-ibu.

Diketahui, aksi itu dilakukan oleh seorang pengepul sayuran bernama Marwan.

Buah tomat yang diperkirakan mencapai 1,5 ton itu dibuang di pinggir jalan lantaran tidak laku.

Baca juga: Sudah 3 Bulan, Harga Tomat di Talang Padang Lampung Masih Rp 12 Ribu

Pasalnya, harga tomat anjlok hingga menyentuh Rp 500 per kilogram.

Kejadian itu turut mengundang reaksi dari Bupati Lampung Barat Parosil Mabsus.

Menurut dia, harga tomat tidak terlalu anjlok.

"Sebenarnya harga tomat ini bukan turun. Beberapa minggu yang lalu harga tomat cukup baik, yakni Rp 4.000 per kilogram," kata Parosil seusai meninjau pembangunan ruas jalan penghubung Kecamatan Sukau menuju Kecamatan Balik Bukit, Senin (28/3/2022).

Parosil mengaku mendengar informasi jika tomat tersebut dibuang bukan karena anjloknya harga tomat.

"Akan tetapi karena memang pihak pembeli itu untuk membeli tomat tidak mau yang terlalu merah (matang)," ungkapnya.

"Sementara tomat yang dibuang tersebut sudah terlalu merah," imbuh dia.

Ia pun menyayangkan tindakan Marwan yang membuang tomat tersebut.

Baca juga: Tak Laku di Pasaran, Agen Sayuran di Lampung Barat Buang Tomat Busuk

Semestinya, kata dia, tomat-tomat tersebut tidak dibuang di pinggir jalan.

"Ditawarkan sajalah dengan keluarga atau tetangga atau mungkin dengan Kelompok Wanita Tani (KWT) kita yang mengolah tomat menjadi panganan di Kecamatan Sukau," tutur Parosil.

Sumber: Tribun Lampung
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved