Kesehatan
Halo Dokter, Gondongan Lebih Sering Menyerang Anak-anak, Kenali Gejalanya
Gondongan dalam bahasa medis mumps atau ada juga yang menyebut parotitis adalah infeksi paramyxovirus di kelenjar parotis.
Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Gondongan dalam bahasa medis mumps atau ada juga yang menyebut parotitis adalah infeksi paramyxovirus di kelenjar parotis, yang berfungsi menghasilkan air liur dan letaknya di belakang telinga.
dr Aditya M Biomed dari UPTD Labkesda Lampung mengatakan, gondongan lebih sering menyerang anak-anak, terutama anak-anak yang masih usia sekolah dasar.
Gondongan bisa menyerang orang dewasa, namun sangat jarang terjadi.
Biasanya orang dewasa yang terkena gondongan, karena ketika masih kecil belum terkena gondongan, atau ketika terkena gondongan semasa kecil tidak terbentuk imun dengan sempurna.
"Kalau saat kecil terkena gondongan, namun tidak terbentuk imun dengan sempurna, memang bisa alami gondongan lagi saat masih kecil itu juga atau saat sudah dewasa," kata dr Aditya, Kamis 7 April 2022.
Baca juga: Halo Dokter, Apa Itu Breakout, Penyebab, dan Cara Mengatasinya
Baca juga: Halo Dokter, Gejala, Penyebab dan Cara Atasi Down Syndrome
Gejala gondongan sama seperti gejala infeksi virus pada umumnya, yakni demam, mual, muntah, sakit kepala, sakit menelan.
Selain itu ada juga gejala pembengkakan di belakang telinga.
Namun pembengkakan dibelakang telinga tidak langsung terjadi setelah terinfeksi paramyxovirus.
Ada yang mengatakan, pembengkakan terjadi 2-5 hari setelah terinfeksi.
Pembangkakan bisa membesar jika imun kurang bagus, kurang menjaga kebersihan, dan makan makanan yang keras.
Itu sebabnya selama gondongan harus makan makanan yang lembut seperti bubur.
"Pembengkakan terjadi karena tubuh tidak mampu melawan paramyxovirus. Kalau tubuh mampu melawan, pembengkakan tidak akan terjadi, atau bahkan seperti tidak terinfeksi paramyxovirus, hanya demam ringan biasa," kata dr Aditya, Kamis 7 April 2022.
Paramyxovirus bisa dengan mudah menular dari orang satu ke orang lainnya, melalui bersin, batuk, dan penggunaan alat makan secara bersamaan.
(Tribunlampung.co.id/Jelita Dini Kinanti)