Gunung Anak Krakatau Erupsi
Kisah Pilu Dibalik Tsunami Selat Sunda 2018, Warga Pulau Sebesi: Seminggu Langit Tertutup Awan Hitam
Tsunami Selat Sunda pada 2018 lalu, masih menyisakan sedih dan trauma bagi warga Pulau Sebesi, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan.
Penulis: Dominius Desmantri Barus | Editor: Teguh Prasetyo
Tribunlampung.co.id, Lampung Selatan - Tsunami Selat Sunda pada 2018 lalu, masih menyisakan sedih dan trauma bagi warga Pulau Sebesi, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan.
Pasalnya, Pulau Sebesi menjadi salah satu lokasi yang terdampak dari tsunami tersebut.
Pulau yang memiliki empat dusun dengan jumlah penduduk 2.795 jiwa ini, merupakan salah satu saksi bisu bagaimana ganasnya tsunami 2018 lalu.
Puluhan warga kehilangan tempat tinggalnya akibat tsunami tersebut.
Sisa bebatuan dan pohon-pohon besar akibat tsunami tersebut, terlihat di jalur perlintasan yang menghubungkan antardesa
Banyak warga yang mengatakan, saat kejadian tsunami tersebut, langit tertutup awan hitam.
Bahkan setelah kejadian tsunami pun, langit tetap gelap.
Tidak terlihat matahari sama sekali, hanya ada hujan disertai halilintar yang silih berganti turun.
Banyak warga yang ketakutan dan memilih untuk mengungsi keluar pulau, karena mereka dibayang-bayangi tsunami susulan.
Baca juga: Gunung Anak Krakatau Erupsi, Warga Sebesi Khawatir Tsunami
Baca juga: Cerita Warga Pulau Sebesi Pasca Tsunami Selat Sunda 2018, Trauma Lihat Petir dari GAK
Salah seorang warga bernama Moktar mengatakan, saat itu langit tertutup awan hitam.
Bahkan dirinya tidak melihat matahari hingga seminggu.
"Yang pertama kami rasakan, ya takut. Karena itu kejadian pertama kali di sini. Saat kejadian langit tertutup awan hitam. Seluruh langit gelap. Kadang-kadang terlihat kilat, disertai gerimis," kata Moktar, pada Rabu (20/4/2022).
"Air sempat surut. Ada warga yang ngasih tahu, kalau air laut tiba-tiba surut hati-hati akan terjadi tsunami. Tak lama kemudian banjir rob datang. Awalnya tidak terlalu tinggi. Lama-kelamaan air mulai tinggi, setengah pohon kelapa. Kurang lebih 1 meter tingginya," ujarnya.
Moktar mengatakan, warga yang melihat air rob sudah tinggi, segera melarikan diri ke dataran yang lebih tinggi.
"Ketika air sudah setinggi 1 meter, mulailah warga panik menyelamatkan diri ke daerah atas. Ke arah gunung. Kalau daerah paling parah sih di Dusun 3. Karena wilayahnya dekat dengan Gunung Anak Krakatau," ujarnya.