Berita Terkini Nasional

Suara Anak Bangsa Hadapi Kegalauan Ekonomi Akibat Sindrom FOMO dan YOLO

48 persen Suara Anak Bangsa menghadapi kesulitan ekonomi akibat jeratan sindrom FOMO dan YOLO di tengah cepatnya arus informasi platform media digital

Editor: Hanif Mustafa
KG Media
48 persen Suara Anak Bangsa menghadapi kesulitan ekonomi akibat jeratan sindrom FOMO dan YOLO di tengah cepatnya arus informasi platform media digital 

Anak muda yang mengikuti fenomena ini sering sekali menghabiskan

uangnya sekaligus untuk menikmati hidup tanpa menyisihkannya untuk ditabung.

YOLO memiliki prinsip “bagaimana nanti”, bukan “nanti harus bagaimana”.

Penyebab terakhir kesulitan finansial generasi kami adalah menurunnya pendapatan karena pandemi Covid-19.

Seperti diketahui, pagebluk tidak hanya menjadi bencana non-alam global yang mengguncang sektor kesehatan.

Sektor perekonomian masyarakat pun terpukul hebat.

Berdasarkan hasil survei LIPI bersama Badan Litbang Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) dan Lembaga Demografi Universitas Indonesia (LD UI) pada 2020, hanya 45 persen pekerja yang pendapatannya tetap selama pandemi Covid-19.

Sementara itu, 15 persen pekerja tidak punya pendapatan karena PHK.

Lalu ada 40 persen pekerja yang mengalami penurunan pendapatan, sebanyak 7 persen di antaranya mengalami penurunan pendapatan hingga 50 persen.

Paralel dengan kesulitan hidup, masalah finansial dan mendapat pekerjaan juga menjadi ketakutan dominan bagi generasi kami di seluruh wilayah dalam 5-10 tahun mendatang.

Persepsi ketakutan terhadap keduanya lebih tinggi dibandingkan masalah lain, termasuk yang terkait variabel non-ekonomi.

Namun, jika melihat persentase secara keseluruhan, berbagai topik yang terkait variabel non-ekonomi justru mendominasi ketakutan di masa  depan bagi generasi muda.

Perbandingannya, variabel ekonomi 20  persen dan non-ekonomi 49 persen.

Di samping itu, ada 9 persen anak muda yang mengaku tidak atau belum memiliki ketakutan mengenai masa depannya.

Berbeda dengan ketakutan di masa depan terkait variabel ekonomi yang cenderung homogen di seluruh penjuru tanah air, ketakutan terkait variabel non-ekonomi yang dominan di berbagai wilayah justru cukup beragam. (*)

Untuk memperoleh hasil survei “Aspirasi Anak Muda Indonesia” yang lebih lengkap dalam format PDF, kunjungi https://kitabangkit.id/sabi/

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved