Berita Lampung

Mulai Pulih, Omset Batik Siger Lampung Tembus Rp 100 Juta per Bulan

Owner Batik Siger Galeri Laila Al Husna mengatakan, omset penjualan per bulan kini sudah menyentuh angka Rp 100 juta bahkan lebih.

Tribunlampung.co.id/Sulis Setia Markhamah
Proses pewarnaan batik yang dilakukan pengrajin di Rumah Batik Siger, Jalan Bayam Nomor 38 Komplek Beringin Raya, Kemiling. Mulai pulih, omset Batik Siger Lampung tembus Rp 100 juta per bulan. 

Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Kondisi pelaku usaha di bidang pembuatan batik tulis di Lampung perlahan menggeliat setelah terdampak badai Covid-19.

Owner Batik Siger Galeri Laila Al Husna mengatakan, omset penjualan per bulan kini sudah menyentuh angka Rp 100 juta bahkan lebih atau tembus sekitar 85 persen dibandingkan kondisi sebelum pandemi.

"Covid-19 sangat berpengaruh terhadap pemasaran batik, namun perlahan kini mulai pulih, permintaan dari buyer (pembeli) saat ini sudah sekitar 85 persen," beber Mama Una, sapraan akrab Laila Al Husna kepada Tribunlampung.co.id, Rabu (21/9/2022).

Sementara jika dibandingkan kondisi 2021 lalu, terusnya, omset ada di kisaran Rp 60 juta sampai Rp 75 juta per bulan.

"Bahkan saat awal terdampak Covid-19 di 2020 lalu, 6 atau 8 bulan lamanya, pernah tidak terjual satu batik pun. Padahal saya punya 30 pengrajin dan 5 staf yang harus saya hidupi," ujarnya.

Baca juga: ASN Lampung Timur Mengakhiri Hidup di Sungai Metro Ternyata Saksi Kasus Bendungan Marga Tiga

Baca juga: Sebanyak 497.144 Warga Miskin di Lampung Selatan Terkover BPJS Kesehatan

Namun saat itu dirinya memilih untuk tetap melakukan proses produksi batik.

"Uang untuk event atau lainnya kala itu sementara digunakan untuk biaya produksi," jelas dia. 

Kondisi sekarang dimana sudah banyak aktivitas atau kegiatan offline, pemesanan batik kembali berdatangan.

Dia membeberkan, 75 persen marketnya ada di kabupaten/ kota di Lampung. Sementara sisanya dari seluruh Indonesia.

Pemasaran keluar Lampung seperti Jakarta, Medan, Palembang, Bengkulu, Yogyakarta hingga Surabaya.

Penjualannya sendiri dilakukan baik secara offline di galeri maupun secara online.

"Pemesanan batik biasanya berupa bahan batik untuk keperluan seragam guru, corporate, seragam sekolah, dinas bahkan perorangan," ujarnya.

Harga bahan batik mulai Rp 250 ribu, Rp 500 ribu, Rp 5 juta bahkan ada yang sampai Rp 6 juta per lembarnya.

Perbedaan harga ini menentukan kualitas. Baik dari jenis kain yang digunakan, corak batiknya hingga kesulitan dan lamanya proses pembuatan batik.

Halaman
12
Sumber: Tribun Lampung
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved