Berita Lampung
Perajin Tahu Tempe Lampung banyak Tidak Nikmati Kedelai Harga Subsidi
Kedelai impor selisih harga di Lampung baru terserap 3.839 ton dari total alokasi 40.000 ton.
Sehingga program menjadi kurang optimalnya untuk para perajin tahu dan tempe.
Misalnya seperti syarat yang terlalu berbelit yang harus di sediakan pengerajin untuk mendapatkan program selisih harga itu.
"Padahal, banyak pengerajin saat ini masih belum lengkap berkas-berkas usahanya,"
"Dokumennya pun kadang ada yang belum sesuai, misal antara lokasi usahanya dan lokasi di identitasnya kependudukannya, karena sewa dan atau sebagainya" jelas dia.
"Syarat yang harus by name by address ini juga menyulitkan," kata dia.
Selain itu, proses tender yang dihadirkan pun terbilang cukup rapat.
"Pengerajin harus tender ke Bulog dalam waktu dua minggu sekali, belum lagi Sabtu dan Minggu tidak bisa mereka gunakan untuk tender karena libur,"
"Sehingga, total waktu mereka produktif dalam satu bulan berkurang bahkan bisa sampai dengan dua minggu," terangnya melanjutkan.
Alhasil, selain meminta untuk dilanjutkan kembali, Gakoptindo meminta agar pemerintah dapat mempermudah proses pengerajin untuk mendapatkan program selisih harga kedelai impor tersebut.
Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan kemudian merespon penjelasan dari Gakoptindo tersebut.
Kementerian Perdagangan tetap akan memberikan selisih harga kedelai impor untuk para pengerajin tahu dan tempe.
Periode pelaksanaannya ialah dimulai pada Oktober sampai Desember akhir tahun ini.
Adapun selisih yang diberikan adalah sebesar Rp 1.000 per kilogram.
Nominal tersebut sama seperti bantuan diperiode sebelumnya.
"Nanti saya juga usulkan subsidinya dinaikan jadi Rp 1.500 ya," kata dia.
(Tribunlampung.co.id)