Berita Lampung
Kenaikan Harga BBM dan Dolar Beri Dampak ke Peternak Ayam Petelur di Lampung
Peternak ayam petelur di Lampung selama ini sudah hadapi kenaikan harga BBM dan ke depan akan hadapi kenaikan kurs dolar.
Penulis: sulis setia markhamah | Editor: Tri Yulianto
Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung – Peternak ayam petelur di Lampung mengaku harga telur saat ini dipengaruhi dua hal bagian dari produksi telur.
Dua hal itu adalah naiknya harga BBM dan kenaikan kurs dolar yang akan berimbas bagi peternak ayam petelur di Lampung dan harga telur nantinya.
Peternak ayam petelur di Lampung kini sudah merasakan dampak kenaikan harga BBM, selanjutnya akan hadapi dampak kenaikan pakan ayam karena termasuk barang impor.
Ketua Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar) Petelur Nasional Lampung Jenny Soelistiani mengatakan, sekitar 30 sampai 35 persen komposisi bahan pakan ayam petelur masih impor.
"Dengan dolar naik berpengaruh terhadap harga bahan pakan ternaknya, karena 30-35 persen bahan pakan masih impor," kata Jenny kepada Tribunlampung.co.id, Minggu (23/10/2022).
Lebih lanjut di menjelaskan jika komposisi pakan ternak 50 persennya merupakan jagung, 15 persen bekatul, dan sisanya masih menggunakan bahan impor.
Baca juga: Insentif Marbot Masjid dan Guru Agama Pesisir Barat Lampung Tidak Cair 10 Bulan
Baca juga: Seorang Kakek di Lampung Tengah Ditangkap Polisi Usai Lakukan Tindak Asusila pada 2 Anak
"Jadi itu yang cukup berat, untungnya harga jagung sudah mulai turun," paparnya.
"Di Lampung harga jagung sudah normal Rp 4.200 per kilo dari sebelumnya yang sampai Rp 5.800 per kilo," sambung dia.
Kondisi kestabilan harga jagung ini diakuinya cukup membantu peternak menyetabilkan biaya produksi.
"Sekarang ini dengan BBM naik, semua naik, peternak masih tertolong," kata Jenny.
Terlebih dalam hal ini kebutuhan akan jagung mencapai 50 persen untuk bahan pakan ayam petelur ketimbang bahan yang lainnya.
"Saya bersyukur, kalau jagung sudah terpenuhi, peternak telur mau sesusah apapun itu masih bisa bertahan," ujarnya.
Dia berharap ke depan kondisi stok jagung terus tersedia dengan harga yang juga stabil sehingga turut membantu peternak ayam petelur.
Di Lampung sendiri, untuk peternak yang aktif di bawah Pinsar Petelur Nasional (PPN) Lampung ada sekitar 100 peternak yang merupakan peternak penggerak.
"Sementara total peternak di Lampung hampir sekitar 1.800 sampai 2 ribuan peternak, banyak yang UMKM," beber Jenny.
Dalam hal ini pihaknya selalu berkoordinasi terkait peternakan ayam petelur di Lampung.
Harga Terjaga
PPN Lampung dalam hal ini berharap penyerapan telur bisa semakin stabil utamanya di tingkat konsumen.
Baca juga: Damkar Catat 10 Kasus Kebakaran di Pesawaran Lampung Didominasi Korsleting Listrik
Baca juga: Pembuatan Ikan Baung Laut Asap Khas Mesuji Lampung Butuh Waktu 12 Jam
Ketua PPN Lampung Jenny Soelistiani menuturkan, harga telur saat ini terus terkontrol sejak keluarnya Perbapanas (Peraturan Bahan Pangan Nasional) Nomor 5 tahun 2022.
"Jadi sekarang harga telur ada di dalam standar, karena eceran rata-rata Rp 26 ribu atau Rp 27 ribu per kilogram, harga kita di kandang Rp 22 ribu sampai Rp 23 ribu per kilogram," kata Jenny.
Sementara berdasarkan harga acuan Perbanas, harga telur ayam ras di tingkat peternak ada di kisaran Rp 22 ribu sampai Rp 24 ribu per kilogram.
Sementara di pasaran Rp 27 ribu sampai Rp 28 ribu per kilogramnya.
Untuk produksi telur ayam ras per hari dari peternak ayam petelur di Lampung mencapai 350 ton kurang lebihnya yang mampu memenuhi kebutuhan pasar Lampung.
Kondisi tersebut surplus dan sebagian dikirim ke Jakarta. "Yang jelas setiap hari peternak telur ayam ras di Lampung surplus 50 sampai 70 ton per harinya, dan itu dikirim ke Jakarta," ujarnya.
Di daerah yang bersinggungan dengan Palembang seperti Tulang Bawang, Tulang Bawang Barat, Mesuji, terusnya, sebagian kebutuhan telur juga disuplay dari Palembang.
(Tribunlampung.co.id/ Sulis Setia Markhamah)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lampung/foto/bank/originals/penjual-telur-ayam-ras-di-pasar-pasir-gintung.jpg)