Wawancara Eksklusif

Wawancara Eksklusif Dekan dan Mahasiswa Teknokrat, Juara Nasional Technologine 2023

Baru-baru ini Universitas Teknokrat Indonesia kembali mengukir prestasi di kancah nasional, dengan meraih juara nasional Technogine 2023.

Foto Screnshot dari Youtube Tribunlampung.co.id
Wawancara Eksklusif bersama Dekan dan Mahasiswa Teknokrat pasca meraih juara nasional di ajang Technologine 2023 

Secara tampilan Pesawat tersebut di desain dengan warna putih dengan ukuran sayap kisaran 60cm dan menggunakan baling-baling berukuran kisaran 20cm dan di oprasikan melalui remot kontrol untuk menerbangkannya.

Salah satu Mahasiswa yang merupakan ketua tim yang juga vilot dalam perlombaan, Firman menjelaskan proses sebelum meraih juara.

"Kami terdiri dari 4 anggota mahasiswa saya sendiri Firman Fahrodin (Teknik Elektro), Wayan Rio (Teknik Elektro), Melvin Erdiyan (Teknik Komputer), M. Aerren Harinal (Teknik Komputer), kami memiliki nama tim yakni keraktau X one," kata Firman Fahrodin.

Ia menambahkan dari 4 anggota tersebut, memiliki bidang masing-masing dalam mengoperasikan Pesawat.

"Ada vilot saya sendiri tugasnya untuk mengendalikan Pesawatnya, kemudian ada kovilot untuk melepaskan dan mengambil Pesawat jika terjatuh, sedangkan mekanik satu dan mekanik dua bertugas untuk mendandan jika Pesawat mengalami kendala," terang Firman.

Lebih lanjut Firman mengatakan konsep yang diusung dalam perlombaan yakni Indor, jadi mereka memiliki ide untuk menciptakan Pesawat yang terbilang ringan.

"Karena konsepnya indor kita memiliki ide untuk membuat Pesawat yang ringan, untuk bahannya sendiri kami mengunakan polipom (kota nasi) dan kami gunakan penguatnya menggunakan viber, jadi semua tulang Pesawatnya menggunakan viber agar tidak luntur, ada juga plastik jas hujan untuk melengkapi Pesawat," ujarnya.

Kendati demikian, sebelum berhasil menciptakan Pesawat sedemikian rupa, Firman mengaku ia bersama tim sempat melakukan beberapa percobaan.

"Sebelum berhasil buat seperti ini, kami sebelumnya mencoba membuat Pesawat dengan bahan full menggunakan polipom, namun hal itu kurang efektif karena Pesawat terlalu berat dan susah dikendalikan bahkan sistem elektroniknya terlalu boros," cerita Firman.

Dalam proses menciptakan Pesawat Firman mengaku pihaknya belajar secara fokus melalui beberapa metode.

"Selain belajar teori langsung kami juga belajar dari Web dan Youtube," ujarnya.

Firman mengatakan proses pembuatan Pesawat menggunakan trasmiter dengan remot kontrol.

Disinggung yang menjadi penilaian dalam perlombaan, Firman menjelaskan secara singkat.

"Dalam perlombaan ada presentasi, disitu kami menjelaskan inovasi Pesawat, kemudian dalam perlombaan terdapat misi terbang melewati opsekel-opsekel seperti kotakan, nanti Pesawatnya masuk yang ditentukan oleh panitia dan sebagai nilai tambahan peserta lomba harus memperlihatkan akrobatik dari Pesawatnya," tutur Firman menjelaskan.

Alhasil berkat kegigihan Firman dab tim Universitas Teknokrat Indonesia berhasil meraih juara 2 di tingkat nasional.

Sumber: Tribun Lampung
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved