Pemilu 2024

Ketua MKMK Jimly Asshiddiqie Prediksi Pemilu 2024 Lebih Bermasalah Dibanding Pemilu 2019

Ketua MKM Jimly Asshiddiqie prediksi Pemilu 2024 lebih banyak masalah dibanding Pemilu 2019 karena lebih kompleksitas kondisi saat ini

Tayang:
Editor: Tri Yulianto
Tribunlampung.co.id
Ketua MKM Jimly Asshiddiqie prediksi Pemilu 2024 lebih banyak masalah dibanding Pemilu 2019 karena lebih kompleksitas kondisi saat ini. 

Tribunlampung.co.id - Ketua Kehormatan Mahkamah Konstitusi ( MKMK ) Jimly Asshiddiqie prediksi Pemilu 2024 akan menghadapi banyak masalah

Bahkan Jimly Asshiddiqie berani menebak permasalahan di Pemilu 2024 lebih banyak dari pada Pemilu 2019.

Baca juga: Ribuan Santri di Lampung Doa Bersama Akhir Tahun 2023 untuk Pemilu Damai 

Baca juga: KPK Bakal Hajar Serangan Fajar demi Pemilu 2024 Bebas Korupsi

Prediksi Jimly Asshiddiqie tersebut dilatarbelakangi kompleksitas pelaksanaan Pemilu 2024 saat ini dibanding Pemilu 2019.

Diketahui selain pilpres, di 2024 ada hajat demokrasi lain seperti pemilihan anggota DPR, DPD, DPRD provinsi kabupaten dan kota.

"Saya setuju Pemilu 2024 ini sangat kompleks, banyak masalah jauh lebih banyak dari pemilu sebelumnya, apalagi dibandingkan 2019 ada incumbent dan sekarang kan nggak ada. Akan terjadi perubahan pergantian kepemimpinan menyeluruh eksekutif, legislatif di seluruh indonesia termasuk pilkada," tutur dia dalam tayangan Kompas TV, Senin (1/1/2024).

Apalagi diselenggarakan ditengah perkembangan distrupsi teknologi.

"Semakin parah. Jadi ancamannya nyata. Pertama bagi penyelenggara. KPU bahwa DKPP, MK harus memperlihatkan profesionalisme kesungguhan pekerja bagi bangsa dan negara dan netral," jelas Ketua Majelis Kehormatan Mahkamah Konstitusi (MKMK) ini.

Menurutnya, netral bukan cuma sekadar slogan tapi wajib ditunjukkan.

"Jadi independen dan look independen. Harus diperlihatkan ke publik walaupun masing-masing kita punya referensi politik," ungkap Jimly.

Kemudian, caleg maupun para pasangan calon (paslon) capres-cawapres juga harus menunjukkan sikap, tidak saling serang.

"Pertama yang harus dicegah itunya black campaign, negatif campaign. Perlu positif campaign untuk masing-masing. Jadi pada pendukung harus memperlihatkan kehebatan, kebaikan supaya yang dukung itu bisa dipercaya itu," terang dia.

Bahkan Jimly menyatakan, jelang pilpres baik negatif campaign dan black campaign sangat banyak mewarnai media sosial.

"Kondisi di medsos sekarang seperti padahal peristiwanya 5 tahun yang lalu tapi dimunculkan terus sekarang," ungkap Jimly.

(Tribunlampung.co.id/Tribunnews) 

Sumber: Tribun Lampung
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved