Berita Lampung

IDAI Bongkar Beragam Manfaat Imunisasi Lengkap Bagi Anak

Anggota Satgas Imunisasi IDAI Prof. Dr. dr. Soedjatmiko, Sp.A(K), Msi mengatakan, edukasi tersebut dilakukan karena setiap menit 9 bayi lahir.

Tayang:
Penulis: Jelita Dini Kinanti | Editor: Robertus Didik Budiawan Cahyono
Foto screenshoot Media Briefing IDAI
Ikatan Dokter Anak Indonesia atau IDAI membongkar berbagai manfaat imunisasi lengkap buat anak. 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, Bandar Lampung - Ikatan Dokter Anak Indonesia ( IDAI ) tidak berhenti untuk memberikan edukasi mengenai imunisasi.

Anggota Satgas Imunisasi IDAI Prof. Dr. dr. Soedjatmiko, Sp.A(K), Msi mengatakan, edukasi tersebut dilakukan karena IDAI mencatat setiap menit 9 bayi lahir di Indonesia.

Diantara 9 bayi itu ada yang orangtuanya belum tahu mengenai imunisasi karena bayinya itu adalah anak pertama.

IDAI juga mencatat 20 juta balita di Indonesia belum mendapatkan imunisasi lengkap

"Dari 24 juta murid SD di Indonesia kemungkinan sebagian juga belum mendapatkan imunisasi lengkap," kata dr. Soedjatmiko dalam Media Briefing IDAI via zoom, Selasa (21/5/2024).

Setiap anak harus mendapatkan imunisasi lengkap agar anak bisa mendapatkan kekebalan tubuh yang spesifik.

Kekebalan tubuh spesifik langsung didapatkan anak 2 minggu setelah imunisasi.

Jangan pernah berpikir kekebalan tubuh yang spesifik tidak harus didapatkan dari imunisasi, karena kekebalan tubuh spesifik juga bisa didapatkan hanya dengan menjaga kebersihan, ASI, gizi, herbal, madu, dan olahraga.

"Perlu diketahui, menjaga kebersihan, ASI, gizi, herbal, madu, dan olahraga tidak bisa menghasilkan kekebalan tubuh yang spesifik," kata dr. Soedjatmiko

Kekebalan tubuh spesifik yang didapat dari imunisasi akan membuat anak  terhindar dari berbagai penyakit, termasuk penyakit menular.

Hal ini sudah terbukti sejak program imunisasi ada pertama kalinya di Indonesia tahun 1956.

Jarang sekali terjadi anak terkena penyakit walaupun anak itu sudah di imunisasi.

"Jika dipresentasekan, kemungkinan anak terkena penyakit setelah imunisasi, hanya 5-10 persen," ujar dr. Soedjatmiko.

Kalaupun anak terkena penyakit setelah mendapatkan imunisasi, penyakitnya ini hanya penyakit ringan, tidak seberat anak yang belum imunisasi.

Jika anak terkena penyakit dalam keadaan belum imunisasi, maka penyakit itu bisa berisiko membuat anak sakit berat, cacat, dan meninggal dunia.

Jangan Panik Jika Anak Demam Setelah Imunisasi

Apabila setelah imunisasi anak mengalami demam, jangan panik, karena demam biasa terjadi setelah imunisasi.

"Demam setelah imunisasi bukan demam yang berbahaya," ujar dr. Soedjatmiko.

Saat mengalami demam, berikan anak obat penurun demam, setelah itu demam anak akan turun dalam 3 hari.

Namun demam sering dijadikan alasan beberapa orangtua yang tidak mau anaknya diimunisasi.

Selain demam, orangtua tidak mau anaknya diimunisasi karena khawatir adanya kipi (kejadian ikutan pasca imunisasi).

Mereka semakin khawatir dengan kipi karena di media sosial ada yang membesar besarkan kipi, padahal kipi jarang sekali terjadi.

Tak hanya itu, alasan lain orangtua yang tidak mau anaknya diimunisasi karena takut dengan imunisasi ganda.

Padahal imunisasi ganda adalah imunisasi yang dilakukan jika ada imunisasi yang terlewat.

Imunisasi ganda terbukti aman, lebih praktis, dan lebih cepat melengkapi imunisasi yang terlewat.

Orangtua juga ragu manfaat imunisasi, karena imunisasi jarang disebarluaskan di media sosial dan televisi.

Penyakit yang Bisa Dialami Anak Jika Tidak Imunisasi

dr. Soedjatmiko memaparkan penyakit yang bisa dialami anak jika anak tidak melakukan imunisasi.

Hepatitis B (radang hati, sakit kuning, hati rusak), TBC /tuberkulosis (radang paru, otak, kelenjar, tulang), polio (lumpuh, cacat), pneumonia (radang paru), dan muntah berak (diare, kekurangan cairan tubuh)

Difteri (jalan nafas tersumbat, otot jantung rusak), pertusis (batuk lama, batuk 100 hari), tetanus (kaku otot mulut, punggung, perut, dada, tidak bisa makan atau bernafas), hib (radang otak, radang paru), dan influenza (demam, batuk pilek, sesak, radang paru)

Campak (radang paru, diare, radang otak), rubella (janin dlm kandungan mengalami otak kecil, buta, tuli, jantung bocor), JE (radang otak melalui gigitan nyamuk), varisela (cacar air), hepatitis A (radang hati oleh virus Hep A), tifoid (radang usus), dengue (demam berdarah dengue), dan kanker lahir rahim.

Anak-Anak yang Perlu Dilindungi dengan Imunisasi

dr. Soedjatmiko memaparkan ada anak-anak yang perlu dilindungi dengan imunisasi karena rentan terhadap penyakit menular, asalkan klinisnya stabil dan kekebalanya normal.

Anak-anak ini adalah bayi prematur, dan berpenyakit kronis, kelainan jantung, ginjal, syaraf, epilepsi, asma, talasemia, DM, dan hipertensi 

Kemudian anak berkebutuhan khusus atau murid SLB, anak autis, ADHD, down sindrome, disabilitas intelektual, dan CP

Selanjutnya anak tuna rungu, wicara, netra, daksa, dan grahita.

Selain itu anak batuk pilek sedikit, tidak demam, dan tidak rewel boleh diimunisasi.

Anak yang baru sembuh dari penyakit lain boleh diimunisasi, asalkan dengan jarak 1 bulan setelah sembuh.

(TRIBUNLAMPUNG.CO.ID/Jelita Dini Kinanti)

Sumber: Tribun Lampung
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved