UMKM Lampung

Ical’s Craft Sulap Tenun Ikat Lampung Jadi Warisan Budaya Kekinian

Soal motif, Ical mengungkapkan mereka memilih untuk mengangkat motif kuno untuk dikenalkan ke masyarakat.

Penulis: Virginia Swastika | Editor: Reny Fitriani
Tribunlampung.co.id/Deni Saputra
Proses pembuatan tenun ikat ical's scraf. 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, Bandar Lampung - Ical Sungkai, pendiri Ical’s Craft, percaya bahwa tenun ikat Lampung memiliki potensi besar yang bisa dikenal lebih luas.

Sejak 2015, ia telah fokus mengembangkan produk kerajinan tangan.

Namun kini, ia mulai fokus pada produk kain tenun ikat Lampung.

Ketertarikannya pada wastra Lampung ini pun sebenarnya sudah lama.

Hanya saja, dia baru bisa mengeksekusi rencananya untuk memproduksi sendiri di tahun 2024.

Kendati begitu, dia pun sudah lama meriset warisan budaya Lampung yang satu ini.

"2024 sebetulnya kita sudah mulai jalan. Mulai produksi itu sekitar bulan Mei 2024 dan itu pembelajaran kita, risetnya sudah dari tahun-tahun sebelumnya karena mengumpulkan data untuk tenun ikat Lampung itu kan minim data ya," ujarnya, Sabtu (14/12/2024).

Produk kain tenun ikat ini, Ical memproduksinya di Lampung, bukan di tempat lain.

Ini bukan hanya karena lebih mudah memantau produksinya, tetapi juga sebagai bentuk tanggung jawabnya sebagai pengrajin yang ingin mengenalkan budaya Lampung.

"Aku tulis statementnya tenun ikat Lampung, ditenun di Lampung. Selama ini ada tapi tenunnya di Jawa atau di Tasik. Yang ada selama ini buatnya ke Jawa semua. Namanya pengusaha udah murni toko,"

"Satu lebih gampang buat mantau sama tanggung jawab sih. Dari pribadi saya, saya ingin nunjukkin tanggung jawab saya. Tenun Lampung kok dibuatnya nggak di Lampung?" ucap Ical.

Akan tetapi Ical juga tak menampik, jika permintaan cukup banyak, dia akan bekerja sama dengan sentra tenun di Jawa.

"Tapi realistis juga kalau udah produksi massal, kita tetap kerja sama dengan sentra Jawa yang udah industri. Tapi kalau sebatas kayak yang dikerjakan masih pakai warna alam, kita yang kerjakan semua," kata dia. 

Soal motif, Ical mengungkapkan mereka memilih untuk mengangkat motif kuno untuk dikenalkan ke masyarakat.

Ini karena ia ingin mengangkat tenun ikat Lampung yang disebut dengan inuh.

"Aku pengin motif-motif yang kuno, lama," katanya.

"Sebetulnya ini kita belum ke inuh banget ya, menuju ke inuh. Tapi paling tidak kan untuk tenun ikatnya sendiri teknik pengerjaannya kita sudah mulai ke inuh itu sendiri karena kalau inuh kan detail sekali."

"Paling tidak kita mengangkat motif inuhnya sendiri, motif kunonya karena untuk di Lampung khususnya masih jarang. Masih perlu kita angkat lagi untuk sekarang," jelasnya.

Kendati begitu, ia juga masih mempertimbangkan warna yang tetap modis.

Dengan begitu, kain tenun ikat Lampung ini bisa dinikmati keindahannya di era modern. 

(Tribunlampung.co.id/Virginia Swastika)

Sumber: Tribun Lampung
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved