Riyanto saat itu juga izin untuk tidak pulang pada malam harinya. Ia ingin beriktikaf di masjid selepas menjaga gereja. Saat menjaga Gereja Eben Haezer bersama tiga rekannya, sekitar pukul 20.30 WIB, Riyanto mendapat laporan adanya benda mencurigakan di depan gereja dari jemaat.
Bentuknya bungkusan tas plastik dan tas berisi kado di bawah telepon umum depan gereja. Riyanto kemudian berinisiatif mengambil dan menyerahkan ke polisi yang berjaga. Setelah dicek ternyata bungkusan plastik itu berisi bom.
Petugas yang berjaga kemudian meminta semua menjauh dan tiarap. Namun Riyanto justru membawa lari benda itu, menjauhkan dari gereja. Saat berusaha mengamankan itulah, bom meledak.
Tubuhnya terpelanting sejauh 30 meter. Tak lama kemudian bom kedua juga meledak. Tidak ada jemaat yang menjadi korban jiwa. Namun, Riyanto wafat. Tepat saat nuraninya terketuk untuk menyelamatkan kehidupan manusia. Nama Riyanto kemudian diabadikan sebagai nama jalan. Sosoknya juga menginspirasi kisah Soleh di film “?” (Tanda Tanya) karya Hanungbramantyo. (*)