Mutiara Ramadan

Bahaya Ghibah dan Namimah

Ghibah dan namimah adalah perbuatan seseorang yang membicarakan keburukan orang lain saat orang tersebut tidak berada di tempat itu.

Tayang:
Penulis: Riyo Pratama | Editor: Daniel Tri Hardanto
Tribunlampung.co.id/Wahyu Iskandar
Wakil Sekretaris LDNU Lampung M Mathla'il Fajri dalam program Mutiara Ramadan yang tayang di kanal YouTube Tribun Lampung, Sabtu (22/3/2025). 

Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Ghibah dan namimah adalah sesuatu yang dibenci oleh Allah SWT. 

Ghibah dan namimah adalah perbuatan seseorang yang membicarakan keburukan orang lain saat orang tersebut tidak berada di tempat itu.

Rasulullah SAW pernah bertanya kepada sahabatnya, “Wahai sahabatku, tahukah kalian apa itu ghibah?” 

Maka sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.”

Lalu Muhammad SAW bersabda, “Ghibah adalah kalian membicarakan seseorang yang, apabila ia mendengarnya, akan merasa benci atau tidak suka.” 

Dengan kata lain, ghibah adalah membicarakan keburukan orang lain.

Kemudian sahabat bertanya kembali, “Ya Rasulullah, bagaimana jika yang kami bicarakan itu mengandung fakta dan kebenaran?” 

Maka sabda Rasulullah, “Berarti kalian sudah melakukan ghibah. Andaikan perkataannya tidak benar, berarti kalian sudah memfitnahnya.” (Hadis Riwayat Muslim)

Wakil Sekretaris LDNU Lampung M Mathla'il Fajri mengatakan, dalam hadis ini sudah sangat jelas bahwa ghibah adalah salah satu penyakit hati yang harus dijauhi. 

Karena ghibah ini membicarakan keburukan orang lain tanpa sepengetahuan orang tersebut.

Bagaimana dengan namimah? Namimah lebih spesifik lagi, yaitu mencari-cari kesalahan orang lain dan keburukan mereka dengan cara mengadu domba.

Allah berfirman dalam Alquran surat Al-Hujurat ayat 12, yang artinya: "Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian prasangka itu adalah dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang serta janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang."

Maka bagi orang yang melakukan ghibah, ibaratnya ia memakan bangkai saudara sendiri yang sudah mati.

“Tentu kalian akan merasa jijik terhadapnya. Oleh karena itu, bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat dan Maha Penyayang.” (Alquran Surat Al-Hujurat ayat 12)

“Allah memerintahkan kita, umat Islam yang beriman, untuk menjauhi prasangka buruk (suuzan) kepada orang lain. Kita juga diperintahkan untuk tidak mencari-cari kesalahan orang lain karena kesalahan kita sendiri pun banyak,” kata Mathla'il Fajri dalam program Mutiara Ramadan yang tayang di kanal YouTube Tribun Lampung, Sabtu (22/3).

Bahkan, dalam ayat ini Allah mengumpamakan orang yang mengghibah itu bagaikan seseorang yang memakan bangkai manusia. 

Maka segeralah meminta ampun karena sesungguhnya Allah Maha Luas ampunan-Nya dan juga Maha Penyayang.

Lantas apa dampak atau bahaya ghibah dan namimah ini? Tentunya sangat banyak sekali dampak negatifnya, di antaranya, orang yang melakukan ghibah akan terputus tali silaturahim, bahkan bisa menyebabkan perpecahan dan peperangan.

Orang yang mengghibah akan disiksa oleh Allah sebelum hari kiamat, bahkan akan disiksa dalam kuburnya.

Ada satu hadis yang diriwayatkan oleh Muslim. Rasulullah SAW pernah melewati sebuah kuburan, kemudian beliau bersabda:

"Sesungguhnya di dalam kuburan ini ada dua orang yang sedang disiksa. Orang yang pertama disiksa karena ketika kencing, ia tidak bersuci dengan benar. Lalu, yang kedua disiksa karena sering melakukan adu domba (namimah).”

Rasulullah SAW juga bersabda: "Tidak akan masuk surga seseorang yang sering melakukan ghibah dan namimah."

Maka ghibah dan namimah adalah penyakit hati yang bisa membuat hati kita semakin hitam dan berkarat. Jika sudah hitam dan berkarat, maka akan semakin sulit untuk dihilangkan. 

“Lalu bagaimana cara agar kita terhindar dari ghibah dan namimah? Pertama, ingatlah bahwa seluruh perbuatan kita diawasi oleh Allah dari ujung rambut hingga ujung kaki, bahkan pikiran dan hati kita. Semua akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat,” kata Mathla'il Fajri.

Kedua, hindari pertemuan atau perkumpulan yang di dalamnya ada ghibah. Jika memungkinkan, ingatkan orang-orang dalam majelis tersebut. Ketiga, ingatlah kematian, karena kematian itu pasti datang. Yang harus kita persiapkan adalah diri kita sendiri, bukan mengurusi keburukan orang lain.

“Keempat, perbanyak zikir kepada Allah dan berkata yang baik. Jika tidak bisa berkata baik, lebih baik diam,” tambahnya.

Marilah kita sebagai umat Islam menjauhi dua penyakit hati yang sangat berbahaya ini, yaitu ghibah dan namimah. Karena dampaknya bisa menyebabkan kita tidak diridhai oleh Allah.

Ada sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah dan Bukhari-Muslim bahwa nanti di Hari Kiamat ada seseorang yang membawa amal ibadah sangat banyak, tetapi ia menjadi orang yang merugi karena ia zalim kepada orang lain, termasuk melakukan ghibah dan namimah. Sehingga amal-amalnya habis diberikan kepada orang yang ia zalimi. 

(Tribunlampung.co.id/Riyo Pratama)

Sumber: Tribun Lampung
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved