Bandar Lampung
YIARI dan AJI Bandar Lampung Wadahi 20 Jurnalis di Lampung Perdalam Isu Konservasi Satwa Liar
YIARI gandeng AJI Bandar Lampung dorong peningkatan kapasitas jurnalis dalam mengangkat isu konservasi satwa liar, khususnya kukang di Tanggamus.
Penulis: sulis setia markhamah | Editor: Reny Fitriani
Banyak kasus penebangan bambu secara ilegal untuk diambil kristalnya (bigar bambu) demi bahan kosmetik, yang juga mengganggu rantai makanan satwa seperti kukang.
Tak cukup sampai disitu, dia menjabarkan ancaman yang tak hanya berkaitan dengan deforestasi, perburuan dan perdagangan liar, namun juga menyoroti pembangunan jaringan listrik milik negara yang tak selaras dengan upaya konservasi.
Diuraikannya contoh hasil peliputan mendalam yang pernah ia lakukan bersama tim termasuk foto pendukung yang semakin menunjukkan bagaimana habitat kukang terganggu.
Harapannya, ia ingin jurnalis mampu membuat berita yang komprehensif dan juga berdampak, memberikan dampak langsung terhadap kebijakan yang positif yang dilahirkan oleh para pemangku terkait.
"Jurnalis konservasi dapat mendesak pemerintah untuk mempertimbangkan informasi lingkungan dalam pengambilan kebijakan dan tindakan," ucapnya.
Tak hanya itu, jurnalis lingkungan bisa mengajak masyarakat yang terlibat isu konservasi untuk pada akhirnya memahami dampak dari tindakan mereka terhadap lingkungan sehingga dapat membuat keputusan yang lebih bertanggung jawab.
Mendorong publik untuk bertindak, misalnya mendukung kebijakan yang pro lingkungan atau terlibat dalam kampanye lingkungan.
Terlebih dalam pelatihan yang digelar selama tiga hari pada 13-15 Mei 2025 ini, di hari kedua bakal ada turun lapang untuk menilik kondisi terkini habitat kukang di daerah Batutegi, Tanggamus.
Batutegi Masih Menyimpan Satwa Liar
YIARI mengungkap berbagai tantangan konservasi satwa dan hutan di kawasan Batutegi, Kabupaten Tanggamus, Lampung. Seperti kehilangan tutupan hutan akibat aktivitas oknum hingga butuh waktu tidak sebentar untuk perbaikan tutupan lahan garapan.
Pemateri dari YIARI yang juga Manager Program Resiliensi Habitat YIARI Aris Hidayat dalam sesi diskusi menjelaskan, kawasan hutan Batutegi memiliki luas 82 ribu hektar dengan hutan tertutup (hijau) tersisa 16 ribu hektar.
YIARI telah memasang 47 titik Camera Trap Analysis Package (CTAP) sejak 2021 di kawasan Batutegi dan sekitarnya.
Selain mencatat kehadiran satwa liar, kamera ini juga memantau aktivitas manusia seperti perburuan, pencurian bambu, dan pembukaan lahan.
YIARI memetakannya dalam konservasi lanskap Hutan Batutegi yang pada akhirnya memunculkan sinkronisasi data secara periodik.
Pihaknya juga berkolaborasi dengan akademisi dan lembaga riset untuk menggali informasi penting dari kawasan tersebut.
Kulineran, Angkringan Bang Jon Punya Menu Sup Jagung hingga Rice Bowl |
![]() |
---|
Pencegahan Stunting Tercapai Saat Fondasi Pemenuhan Gizi Seimbang Terpenuhi |
![]() |
---|
Program Makan Bergizi Gratis Menyasar Kecamatan Enggal Bandar Lampung, Targetnya Anak dan Bumil |
![]() |
---|
Ketua DPRD Bernas Yuniarta Dorong Bandar Lampung Makin Maju di Perayaan HUT ke-343 |
![]() |
---|
DPD KNPI Lampung Segera Gelar Musda ke XIV |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.