Peserta Lomba FLS2N Kecewa Ahli Dancer Jadi Juri Tari Tradisional
Festival Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N), tingkat Kota Bandar Lampung yang digelar Dinas Pendidikan Bandar Lampung di SMPN 16 Bandar Lampung
Penulis: Romi Rinando | Editor: soni
Laporan Wartawan Tribun Lampung Romi rinando
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDARLAMPUNG - Festival Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N), tingkat Kota Bandar Lampung yang digelar Dinas Pendidikan Bandar Lampung di SMPN 16 Bandar Lampung pada Rabu (28/3/2018) menuai banyak protes dari para orangtua peserta lomba.
Pasalnya sejumlah juri pada lima tangkai perlombaan yang dipertandingkan banyak tidak berkompeten, atau sesuai petunjuk pelaksaan FLSN Sekolah Menengah Pertama Tahun 2018 yang ditebitkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nasional.
Baca: Beredar Paspor yang Diduga Milik Lucinta Luna. Perubahan Wajahnya Jadi Sorotan. Beda Banget!
Gunawan, orangtua peserta yang mengikuti lomba solo song mengaku kecewa atas ketidakprofesionalan juri, yang dinilainya tidak berkompeten. “Kami kecewa, juri-jurinya tidak berkompeten, sesuai juklak yang diterbitkan pusat. Contohnya juri penari tradisional jadi juri solo song, juri dancer jadi juri musik tradisonal,” ujar Gunawan kepada tribun, Jumat (30/3/2018)
Baca: Ogah Balas Dendam, Anak Opick Tulis Pesan Menohok Tanggapi Prahara Orangtuanya
Menurut Gunawan bukan itu saja karena ada lomba poster yang menurut juklak pusat menggunakan printer digital, ternyata menggunakan manual. dinas pendidikan dan kebudayaan beralasan tidak memiliki printer yang sesuai kriteria dalam juknis.
Muhamad Aris pelatih tari dan musik tradisional dari SMPN 5 SMPN 14 dan SMPN 10 Bandar Lampung, mengungkapkan kekecewannya atas kinerja juri lomba FLS2N tingkat SMP se Bandar Lampung.
“Lomba kemarin sangat lucu dan aneh, orang tidak berkompeten bisa dijadikan juri. Juri tidak mengetahui musik tradisonal dijadikan juri . Ada juri yang ahli tari moderen, malah dijadikan juri tari tradisional, inilah yang kami sesalkan,” kata Aris, Jumat (30/3/2018).
Menurut Aris, pihaknya bukan menyalahkan soal menang atau kalah dalam lomba tersebut, tetapi ada hal kepatutan dalam menilai sebuah karya seni. “Ini bukan soal menang kalah, soal estetika dan budaya, bagaimana mungkin orang tidak paham musik dan tari tradisional bisa menjadi juri. Bermain alat musik tradisional saja tidak bisa, bagaimana mau menilai karya yang kami hasilkan,” kata dia.
Kepala Seksi Dikas Dinas Pendidikan Kota Bandar Lampung Harsono yang dikonfimasi Tribun membantah jika juri yang ditunjuk dalam lomba tidak profesional. “Kita profesional, dan bisa langsung tanyakan kepada koordinator jurinya, kita semua sudah sesuai juklak,” kata Harsono, via ponsel, Jumat (30/3/2018)
Pasalnya kata dia, ia tidak berkompeten menilai hasil karya peserta lomba, dan yang pantas dan layak berkomentar adalah juri. “Saya tidak berkompeten berkoemntar, silahakan langsung ke jurinya. Disdik ini hanya penyelenggaranya saja, dan juri-juri itu memang yang berkompeten disitu,” tegasnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lampung/foto/bank/originals/kakek-menari_20170510_113556.jpg)