“Saya takut resikonya itu, kemungkinan kalau terlambat bisa diamputasi,” terangnya.
“Jadi bisa membuatnya cacat,” imbunya.
Bantu Biaya Seadanya
Erpin Saputra, Ketua RT di tempat Riski tinggal yakni di Dusun Muara Balak, RT 06, RW 01, Pekon Margakaya, Kecamatan Pringsewu mengatakan, keluarganya merupakan masuk dalam status kekurangan.
Dengan melihat kehidupan dari keluarga Riski yang serba kekurangan bahkan tidak memiliki BPJS membuatnya harus tertahan di rumah karena tidak punya biaya berobat.
Bahkan saat perawatan pertama di Rumah Sakit Mitra Husada, keluarga yang menunggu Riski juga mengalami kekurangan.
Sehingga harus dibantu dengan penggalangan dana dari lingkungan sekitar tempat Riski tinggal.
Itu hanya cukup untuk biaya makan dan kebutuhan dari yang menjaga Riski saat menjalani perawatan di rumah sakit.
Meski begitu, Erpin selaku ketua RT juga memiliki tanggung jawab, karenanya dia telah menemui Dissos Kabupaten Pringewu terkait permasalahan ini
Dalam bentuk bagaimana mencari biaya untuk Riski agar bisa menjalani perawatan dan pengobatan kembali di rumah sakit.
Namun, niat tersebut masih tertunda, pasalnya pertemuannya dengan Dissos masih belum menemui titik temu.
“Karena masalah yang nantinya bertanggung jawab dalam menangani ini belum ada,” jelas Erpin.
“Tapi si Riski ini harus segera dirawat bahkan ditangani oleh dokter spesialis, karena khawatir kenapa-kenapa,” tambahnya.
Karena memang, selain kekhawatiran infeksi lalu semakin parah hingga berujung amputasi, bahkan ditambah lagi ini merupakan soal nyawa.
“Jadi kondisinya sangat urgensi, harus segera ditolong, kalau ditunggu-tunggu kami semua khawatir akan kondisinya ke depan,” pungkas Erpin.
(Tribunlampung.co.id/Oky Indra Jaya)