TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, Bandar Lampung – Tapis Lampung kini semakin dikenal di kancah internasional berkat inovasi dari Dija Style, sebuah brand yang mengusung kain tradisional menjadi produk fashion modern.
Berkat tangan kreatif pemiliknya, Soni, produk tapis dari Dija Style telah berkeliling dunia, menarik perhatian berbagai kalangan, termasuk di New York, Arab Saudi, Milan, Amerika Latin, hingga Paris.
Soni memulai perjalanan bisnisnya setelah pandemi Covid-19, ketika ia memutuskan kembali ke kampung halamannya di Lampung setelah 25 tahun berkecimpung di dunia pariwisata dan UMKM di Bali.
Dengan pengalaman luas di bidang ekspor dan fashion, ia melihat potensi besar dalam tapis yang selama ini hanya dikenal dalam bentuk sarung atau hiasan dinding.
“Saya berpikir untuk mengubah turunan tapis menjadi produk jadi seperti tas kombinasi dari kulit, sehingga bisa dinikmati oleh masyarakat luas, termasuk di Indonesia dan luar negeri,” ungkap Soni, Kamis (20/2/2025).
Salah satu produk andalannya adalah Tas Belimbing, yang tercipta dari keinginannya untuk membuat tapis tua lebih mudah dimiliki oleh banyak orang.
“Tas Belimbing itu sebenarnya idenya adalah karena tapis tua sulit dimiliki dan mahal, jadi saya bentuk menjadi tas agar bisa lebih mudah dinikmati,” jelasnya.
Seiring berkembangnya bisnis, Dija Style tidak hanya dikenal di dalam negeri, tetapi juga mendapatkan perhatian di pasar internasional.
Salah satu pencapaiannya yang membanggakan adalah proyek modernisasi tapis dalam bentuk digital printing yang kemudian dikombinasikan dengan sulaman tradisional.
"Kebetulan saya buat proyek tapis itu tidak berupa hanya sarung, hiasan dinding tapi saya buat bagaimana memodernisasikan tapis digital printing yang bisa dilakukan anak muda sekarang tapi dengan sulaman tapis dan itu maaf saya tidak tunjukkan karena hari sedang dibawa," ujarnya.
"Itu berupa lukisan tapi dari tapis itu lagi tur dunia. Jadi ada di New York, terus ke Arab Saudi, terus nanti ke Milan, beberapa negara Amerika Latin juga, nanti terakhir ke Paris. Saya tidak ikut karena saya lebih ke jaga produksi," tuturnya.
Tapis yang dibawa ke luar negeri tidak hanya dalam bentuk tas, tetapi juga dalam berbagai bentuk seperti kimono dan barang hias.
Dalam upaya memperkenalkan tapis lebih luas, Soni mendapat dukungan dari Isabelle, seorang Miss Uniworld yang aktif dalam bidang sosial dan turut serta mempromosikan produk tapis dan budaya Lampung dalam berbagai acara internasional.
“Tapis itu fleksibel, jadi yang dibawa dia adalah barang seni, salah satunya kimono,” jelas Soni.
Antusiasme masyarakat terhadap produk tapis modern semakin meningkat.
“Ketika kita memperkenalkan suatu produk yang look-nya lebih ke arah upgrade yang tinggi, masyarakat kita lebih tertarik,” tambahnya.
Saat ini, Soni terus melakukan inovasi untuk membawa tapis ke level yang lebih tinggi.
Ia berencana mengombinasikan tapis dengan bahan eksklusif lainnya, seperti kulit ular, guna memberikan kesan yang lebih premium.
(Tribunlampung.co.id/Virginia Swastika)