Berita Lampung

Tim Debat SMAK Penabur Bandar Lampung Raih 5 Medali Word Scholar’s Cup

World Scholar's Cup merupakan program akademik internasional tahunan. Lebih dari 50.000 siswa dari lebih dari 60 negara berpartisipasi tiap tahun.

|
Tribunlampung.co.id/Bintang Puji Anggraini
DEBAT - Marcheline Nathanea Husento (16), Hillary Thong (16) dan Aiko Kasih Haratua (17) saat menunjukkan mendalinya dan juga piala debat mereka pada Kamis (18/9/2025). Tim debat SMAK Penabur Bandar Lampung tersebut dapat 5 medali Word Scholar’s Cup. 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, Bandar Lampung - Tim debate SMAK Penabur mendapatkan 5 medali yang terdiri dari tiga emas dan dua perak dalam ajang Word Scholar’s Cup di Bangkok pada 5-10 September 2025.

World Scholar's Cup merupakan program akademik internasional tahunan. Lebih dari 50.000 siswa dari lebih dari 60 negara berpartisipasi setiap tahunnya. Program ini didirikan oleh DemiDec, khususnya oleh Daniel Berdichevsky, pada awal tahun 2006.

Tim debat ini terdiri dari tiga siswi yaitu Marcheline Nathanea Husento (16) sebagai pembicara pertama, Hillary Thong (16) sebagai pembicara kedua dan Aiko Kasih Haratua (17) sebagai pembicara ketiga.

Marcheline Nathanea Husento (16) menjelaskan bahwa perlombaan ini terbagi menjadi dua tingkatan, yang pertama yaitu di tingkat nasional di Jakarta pada (5/5/2025). “Pertama, kita lomba di Jakarta melewati beberapa kualifikasi lomba yaitu debate, writing, challenge,” jelasnya Kamis (18/9/2025).

“Waktu di regional kita sudah berhasil menyelesaikan seluruh kualifikasi lomba tersebut, dan lanjut ke Bangkok,” tambahnya.

Nathanea menjadi salah satu anggota tim yang mewakili Indonesia dalam ajang tersebut. Setelah sampai Bangkok, dirinya dan tim dipersiapkan untuk mengikuti beberapa cabang perlombaan yaitu debate, writing dan juga challenge.

Nathanea menuturkan dirinya dan tim mempersiapkan lomba ini selama kurang lebih tiga bulan saat telah dinyatakan lulus kualifikasi. Selama tiga bulan, dirinya didampingi langsung oleh sang guru.

“Saat latihan, kita diajarkan bagaimana cara pembawaan materi debatnya, kemudian bagaimana cara mengontrol emosi agar tidak berapi-api dan terbawa emosi dalam penyampaian debate,” ucapnya.

Ia mengatakan dirinya dan tim sudah beberapa kali mengikuti lomba debase di Lampung yang diadakan oleh kampus Teknokrat Universitas Lampung sebelum ke World Scholar's Cup.

“Sebelumnya kita udah ikut beberapa kali lomba debat seperti di teknokrat dan Unila, walaupun berbeda tata caranya namun itu sebagai latihan dan juga menambah pengalam kami,” ucap Nathanea.

Menurutnya dalam perlombaan tersebut paling sulit bukanlah di debatnya, karena debat adalah hal yang sangat menyenangkan tapi mengerjakan materi challenge.

“Dalam perlombaan tersebut, peserta harus mengerjakan beberapa bidang jadi tidak hanya focus didebatnya saja,” ujarnya.

“Jadi kalau debat sudah pasti hal biasa bagi kita, tapi yang challenge menurut kita paling sulit karena banyak rupanya dan seluruh hal seputar dunia,” tambahnya.

Dengan kemampuan yang mereka miliki, tim debat mereka meraih mendali gold. Selain meraih gold di lomba debat, mereka juga mendapatkan mendali untuk writing, challenge subject, dan tim bold.

Saat diwawancarai, Nea dan rekan-rekannya menjelaskan alasan mereka suka debat karena berawal dari coba-coba. Ternyata mereka nyaman dan akhirnya menekuni dunia debat.

Sumber: Tribun Lampung
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved