Berita Lampung

Pemprov Lampung Ungkap Penyebab Lulusan SMA dan Universitas Gagal di Bursa Kerja 

Tantangan utama yang dihadapi tenaga kerja muda, khususnya dari kalangan generasi Z kini harus menguasai soft skill

Editor: soni yuntavia
Istimewa
PENTINGNYA SOFT SKILL - Kadisnaker Lampung Agus Nompitu menerangkan tantangan tenaga kerja generasi Z bukan hanya kemampuan teknis, melainkan juga aspek soft skill. 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, Bandar Lampung – Tantangan utama yang dihadapi tenaga kerja muda, khususnya dari kalangan generasi Z kini harus menguasai soft skill, dan tidak melulu kemampuan teknis semata.

Ini searah  dengan pandangan Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) yang menilai banyak pencari kerja gagal dalam proses rekrutmen karena kurang mampu menunjukkan keterampilan komunikasi, percaya diri, kerja sama tim, hingga kemampuan memecahkan masalah.

“Temuan ini juga sesuai dengan masukan perusahaan-perusahaan di Lampung. Banyak lulusan yang sebenarnya punya kompetensi teknis, tapi gugur saat wawancara karena lemah dalam soft skill,” kata Kepala Dinas Tenaga Kerja Provinsi Lampung Agus Nompitu, Senin (29/9/2025).

Disnaker mencatat, meski data kuantitatif mengenai tingkat kegagalan wawancara belum tersedia secara rinci, indikator tingginya jumlah lulusan SMA/SMK bahkan perguruan tinggi yang tidak terserap pasar kerja menguatkan dugaan lemahnya soft skill menjadi salah satu penyebab utama.

Untuk menjawab tantangan itu, Disnaker Lampung telah melaksanakan sejumlah program, antara lain Pelatihan Berbasis Kompetensi (PBK) di UPTD BLK dengan tambahan materi komunikasi, disiplin, kerja sama tim, dan etos kerja.

Selain itu, ada program bimbingan karir bagi siswa SMA/SMK melalui job matching dan coaching clinic, meski keterbatasan anggaran membuat partisipasi sekolah masih terbatas.

“Disnaker juga menggelar pelatihan wirausaha muda, tidak hanya fokus pada keterampilan teknis, tetapi juga membangun mental kewirausahaan, kepemimpinan, dan inovasi,” jelasnya.

Tak hanya itu, Disnaker aktif menjalin kerja sama dengan sekolah kejuruan, perguruan tinggi, hingga Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) swasta.

Program link and match dengan SMK, misalnya, turut menambahkan pelatihan komunikasi, kedisiplinan, hingga career coaching.

Kolaborasi dengan dunia usaha pun terus diperkuat. Bersama Apindo dan Forum CSR, perusahaan di kawasan industri Lampung ikut menyusun kurikulum pelatihan sesuai kebutuhan pasar.

Keterampilan seperti negosiasi, kerja tim lintas generasi, serta adaptasi teknologi digital menjadi prioritas. Di sisi lain, pemerintah daerah juga mendukung melalui inisiatif pelatihan berbasis digitalisasi dan kewirausahaan yang menyasar generasi muda.

“Semua langkah ini untuk memastikan Gen Z Lampung lebih siap menghadapi persaingan dunia kerja yang semakin kompetitif,” pungkasnya.

Magang ke Jepang 

Ratusan peserta mengikuti tes seleksi program pemagangan ke Jepang. 

Program ini merupakan program kerjasama antara Kementerian Tenaga Kerja Republik Indonesia dengan IM Japan di Kabupaten Pringsewu. 

Sumber: Tribun Lampung
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved