Berita Lampung

Aktivis KontaS Disiram Air Keras, Tommy Gunawan: Bentuk Teror Bagi Pembela HAM

Tommy yang dikenal dengan julukan “Si Anak Beras” menilai tindakan tersebut merupakan kekerasan biadab yang tidak hanya menyerang individu.

Tayang:
Penulis: Riyo Pratama | Editor: Reny Fitriani
Dokumentasi
TEROR - Bidang Hukum dan Advokasi DPC Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Kota Metro, Tommy Gunawan. Pihaknya menilai penyiraman air keras terhadap aktivis KontraS bentuk teror bagi pembela HAM. 

Tribunlampung.co.id, Metro – Wakil Ketua Bidang Hukum dan Advokasi DPC Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Kota Metro, Tommy Gunawan, mengecam keras aksi penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Andrie Yunus, yang terjadi pada Kamis malam, 12 Maret 2026.

Tommy yang dikenal dengan julukan “Si Anak Beras” menilai tindakan tersebut merupakan kekerasan biadab yang tidak hanya menyerang individu, tetapi juga menjadi ancaman serius bagi demokrasi dan kebebasan berpendapat di Indonesia.

“Serangan air keras terhadap Andrie Yunus bukan sekadar tindak kriminal biasa. Ini adalah bentuk teror terhadap pembela hak asasi manusia dan ancaman nyata bagi demokrasi. Kita tidak boleh kembali ke masa kelam ketika aktivis diculik, dianiaya, dan dibungkam hanya karena berani menyuarakan kebenaran,” kata Tommy, Jumat (13/3/2026).

Menurutnya, peristiwa tersebut menjadi alarm serius bagi kondisi demokrasi di Indonesia, terutama jika kekerasan digunakan untuk membungkam suara kritis masyarakat sipil.

Tommy mengingatkan bahwa sejarah Indonesia pernah diwarnai berbagai kekerasan terhadap aktivis, seperti tragedi Penculikan Aktivis 1997–1998, pembunuhan terhadap Marsinah pada 1993, hingga kematian Munir Said Thalib pada 2004. 

Baca Juga Kondisi Aktivis KontraS yang Disiram Air Keras, Wajah hingga Dada Melepuh

Ia menilai peristiwa-peristiwa tersebut harus menjadi pelajaran agar kekerasan terhadap pembela HAM tidak kembali terulang di era reformasi.

Ia juga menegaskan bahwa bangsa Indonesia dibangun oleh keberanian para aktivis yang memperjuangkan keadilan dan kemerdekaan, seperti yang dilakukan Presiden pertama RI, Soekarno.

“Republik ini lahir dari keberanian orang-orang yang berani berpikir kritis dan melawan ketidakadilan. Karena itu, setiap upaya membungkam suara kritis melalui teror dan kekerasan adalah pengingkaran terhadap semangat kemerdekaan dan nilai demokrasi,” ujarnya.

Tommy pun mendesak Kepolisian Negara Republik Indonesia untuk segera mengusut tuntas kasus tersebut, menangkap pelaku serta mengungkap aktor intelektual di balik aksi teror tersebut.

Selain itu, ia juga meminta Komisi Nasional Hak Asasi Manusia melakukan investigasi independen guna memastikan proses hukum berjalan transparan dan tidak berujung pada impunitas.

“Negara tidak boleh kalah oleh teror. Demokrasi hanya akan berdiri kokoh jika negara mampu melindungi warganya yang berani menyuarakan kebenaran,” pungkas Tommy.

(Tribunlampung.co.id/Riyo Pratama) 

Sumber: Tribun Lampung
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved