Berita Lampung

Alasan Pihak Mobil Tertemper Kereta Api di Bandar Lampung Blokade Rel, Ada 3 Hal

Satu unit mobil Mitsubishi Xpander tertemper kereta api di perlintasan tanpa palang pintu kawasan Garuntang, Ketapang, Bandar Lampung.

Tayang:
Tribunlampung.co.id/Hurri Agusto
PERLINTASAN - Suasana perlintasan kereta api tanpa palang pintu di Jalan Sentot Alibasa, Ketapang, Bandar Lampung. Alasan pihak mobil yang tertemper kereta api blokade rel ada tiga hal.  

"Dalam aturan Pasal 180, Larangan merusak atau mengakibatkan tidak berfungsinya prasarana kereta api. Kemudian Pasal 181 ayat (1), Larangan berada di ruang manfaat jalur KA, menyeret atau memindahkan barang di atas rel, serta menggunakan jalur KA untuk kepentingan lain," Ujar Manager Humas PT KAI Divre IV Tanjung Karang, Azhar Zaki Assjari.

Di samping itu, Reni menyebut bahwa saat mediasi pihak KAI juga menyatakan bahwa tanggung jawab palang pintu adalah ranah Dinas Perhubungan (Dishub). 

"Waktu mediasi, pihak Kepolisian juga menelepon orang Dishub, tapi itu juga enggak ada solusi karena orang Dishub bilang ada pembagian kewenangan pengelolaan perlintasan antara Dishub dan KAI," lanjtnya.

"Kalau begini apakah harus nunggu korban puluhan orang baru dipasang palang pintu," Keluh Reni.

Karena merasa suaranya tidak didengar, Reni pun mengajak keluarga dan rekan-rekannya melakukan aksi massa di perlintasan No. 3, Jalan Sentot Alibasa, Ketapang, Bandar Lampung pada Rabu (25/3/2026) sore.

Reni juga mengakui bahwa pihaknya yang meletakkan material rel bekas di atas jalur kereta sebagai ungkapan kekecewaan.

"Bukan mau sabotase, tapi kami ingin dapat atensi, itu juga enggak lama langsung dicopot lagi, paling cuma beberapa menit," Kata dia.

Reni menegaskan bahwa perbuatan tersebut bukanlah aksi spontan, melainkan ungkapan kekecewaan lantaran tidak ada itikad baik dari pihak PT KAI untuk menyelesaikan masalah secara terbuka.

"Kami cuma minta tiga hal, ada palang pintu, ada penjagaan, dan unit kendaraan kami diperbaiki. Ini bukan cuma demi saya pribadi, ini demi keselamatan warga yang setiap hari melintas di sana," Kata dia.

Hingga saat ini, Reni dan keluarganya masih menunggu kejelasan solusi dari pihak KAI.

"Kami bukan orang gila, kami hanya meminta kejelasan dan pertanggungjawaban, karena itu bukan kesalahan kami, kalau ada palang pintu, mustahil rel kereta itu diterobos," tandasnya.

(Tribunlampung.co.id/Hurri Agusto)

Sumber: Tribun Lampung
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved