Harga Plastik Naik

Pengamat Ekonomi Unila Ingatkan Dampak Berantai dari Kenaikan Harga Plastik

Sebagai komponen utama dalam pengemasan, plastik diprediksi akan menjadi beban baru bagi produsen maupun konsumen karena harganya naik.

Tribunlampung.co.id/Hurri Agusto
PLASTIK - Atika (35), perajin tempe di kawasan Gunung Sulah, Bandar Lampung saat membungkus kedelai dengan plastik sebelum menjadi produk jadi yang siap dipasarkan, Selasa (7/4/2026). Pengamat Ekonomi Unila, Dedy Yuliawan, membeberkan dampak kenaikan harga plastik terhadap rantai ekonomi. 

Ringkasan Berita:
  • Pengamat Ekonomi menilai kenaikan harga bahan baku plastik di pasar global mulai menghantui pelaku usaha.
  • Khususnya yang paling terdampak adalah pelaku usaha kuliner.
  • Mengingat plastik sebagai komponen utama dalam pengemasan kini harganya naik signifikan.

Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Pengamat Ekonomi menilai kenaikan harga bahan baku plastik di pasar global mulai menghantui pelaku usaha, khususnya di sektor kuliner. 

Sebagai komponen utama dalam pengemasan, plastik diprediksi akan menjadi beban baru bagi produsen maupun konsumen karena harganya naik signifikan.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Lampung (Unila), Dedy Yuliawan, menyoroti peran krusial plastik dalam rantai ekonomi saat ini. 

Menurutnya, hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia bersentuhan dengan bahan ini, sehingga permintaannya tetap tinggi meski harga bergejolak.

Dedy menjelaskan bahwa tren gaya hidup masyarakat yang gemar memesan makanan secara daring (online) atau membawa pulang (take away) menempatkan plastik sekali pakai terbilang sebagai kebutuhan primer bagi pedagang.

Baca juga: Keuntungan Penjual Es Jeruk di Bandar Lampung Menipis Imbas Harga Plastik Naik

"Karena plastik merupakan bagian dari biaya input, tentu kenaikannya akan sangat memengaruhi harga jual produk makanan dan minuman. Apalagi saat ini gaya makan take away membuat plastik sekali pakai menjadi kebutuhan utama," ujar Dedy kepada Tribunlampung.co.id, Selasa (7/6/2026).

Meski kenaikan harga plastik bisa menjadi momentum untuk beralih ke kemasan ramah lingkungan, Dedy menilai hal tersebut sangat bergantung pada selisih harga dan ketersediaan produk pengganti.

Ia mendorong agar riset mengenai bahan alternatif yang kompetitif segera diperkuat agar masyarakat tidak semakin terbebani.

"Harusnya sudah mulai dicari solusi agar penggunaan plastik dikurangi dengan kemasan ramah lingkungan. Sebaiknya dicari alternatif bahan yang ramah lingkungan tapi dengan harga yang tetap kompetitif bagi pengusaha," imbuhnya.

Bagi pedagang kecil yang selama ini sangat bergantung pada plastik, Dedy menilai tantangan ini dirasa cukup berat. 

Dedy menyarankan adanya pola edukasi kepada konsumen untuk membawa wadah sendiri dari rumah.

"Mungkin solusinya pedagang bisa memberikan imbauan kepada pembeli untuk membawa tempat makanan sendiri dengan kompensasi memberikan harga yang sedikit lebih murah dibandingkan menggunakan plastik," jelas Dedy.

Selain itu, ia menyarankan pedagang untuk melakukan diversifikasi harga. Artinya, pedagang bisa membedakan tarif antara produk yang menggunakan kemasan plastik dengan yang tidak, guna menekan biaya operasional tanpa harus menaikkan harga secara drastis di seluruh item.

Menanggapi langkah apa yang harus diambil pemerintah agar harga barang di pasar tetap stabil, Dedy melihat adanya opsi kebijakan jangka pendek dan jangka panjang.

Pembebasan atau pengurangan bea impor bahan baku plastik bisa menjadi "obat" sementara.

Sumber: Tribun Lampung
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved