Harga Plastik Naik

Curhat Perajin Tempe di Bandar Lampung Imbas Harga Kedelai dan Plastik Naik

Harga kedelai sebagai bahan baku utama tempe kini terus merangkak naik, menggerus margin keuntungan Atika dan para perajin kecil lainnya.

|
Penulis: Hurri Agusto | Editor: Daniel Tri Hardanto
Tribunlampung.co.id/Hurri Agusto
PASRAH - Atika sedang membuat tempe di kediamannya, Jalan Pajajaran, Kelurahan Gunung Sulah, Way Halim, Bandar Lampung, Selasa (7/4/2026). Ia mengaku kesulitan imbas naiknya harga kedelai dan plastik. 

Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Di sudut belakang sebuah rumah di kawasan Jalan Pajajaran, Kelurahan Gunung Sulah, Kecamatan Way Halim, Bandar Lampung, Atika (35) disibukkan dengan rutinitas hariannya, Selasa (7/4/2026). 

Jemarinya tampak lincah memasukkan kedelai yang telah diberi ragi ke dalam plastik.

Di sekelilingnya, ada tumpukan tempe yang sudah jadi siap jual. 

Ada pula tempe yang masih dalam proses fermentasi tertata rapi di atas rak-rak kayu.

Kawasan Gunung Sulah memang dikenal sebagai sentra industri rumahan tempe

Usaha ini telah menghidupi banyak keluarga selama puluhan tahun. 

Namun, di balik kegesitannya, Atika menyimpan kekhawatiran terhadap usaha yang telah diturunkan oleh orangtuanya selama puluhan tahun. 

Harga kedelai sebagai bahan baku utama tempe kini terus merangkak naik, menggerus margin keuntungan Atika dan para perajin kecil lainnya.

Atika mengungkapkan bahwa harga kedelai saat ini telah menyentuh angka Rp 11.000 per kilogram, melonjak dari harga normal sebelumnya yang berada di kisaran Rp 9.000. 

Kenaikan ini dirasakan para perajin sejak sebelum momen Lebaran 2026 lalu.

"Kedelai lagi naik, dari harga 9.000 sekarang sudah hampir 11.000 per kilo. Naiknya itu dari sebelum Lebaran kemarin," ujar Atika saat ditemui di sela-sela aktivitasnya membungkus tempe, Selasa siang. 

Menghadapi situasi pelik ini, Atika dan perajin lainnya di Gunung Sulah harus memutar otak agar usaha keluarganya tak gulung tikar. 

Menaikkan harga jual di pasar bukanlah pilihan yang bijak karena berisiko kehilangan pelanggan. 

Jalan tengahnya, mereka terpaksa mengurangi bobot atau ukuran tempe

"Paling isinya dikurangin sedikit, kalau harga dinaikin kan gak mungkin, pasti orang-orang (pembeli) nggak mau. Untungnya pelanggan gak terlalu komplain karena nguranginnya gak banyak, jadi mereka gak begitu tahu," tambahnya.

Sumber: Tribun Lampung
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved