Berita Lampung

Dosen Itera Beberkan Tantangan Pertumbuhan Mobil Listrik di Lampung

Pemerintah bersama PLN telah menghadirkan puluhan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) di berbagai titik strategis.

Tayang:
Tribunlampung.co.id/Istimewa
PENGUATAN - Dosen Teknik Elektro Itera Syamsyarief Baqaruzi menyebut infrastruktur kendaraan listrik di Lampung masih dalam tahap penguatan. 

Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Perkembangan kendaraan listrik di Provinsi Lampung menunjukkan tren yang terus meningkat seiring dorongan transisi energi bersih.

Namun, di balik pertumbuhan tersebut, masih terdapat sejumlah tantangan yang perlu segera diatasi, terutama terkait infrastruktur pengisian daya.

Dosen Teknik Elektro dari Institut Teknologi Sumatera (Itera) Syamsyarief Baqaruzi menjelaskan bahwa saat ini infrastruktur kendaraan listrik di Lampung masih dalam tahap penguatan.

Pemerintah bersama PLN telah menghadirkan puluhan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) di berbagai titik strategis.

"Pada 2025, sudah disiapkan sekitar 57 unit SPKLU yang tersebar di 35 lokasi strategis, seperti jalur tol, lintas utama, dan titik dengan mobilitas tinggi, termasuk untuk mendukung arus mudik," ujar Ketua Tim Masyarakat Ketenagalistrikan Indonesia (MKI) Provinsi Lampung ini, Jumat (24/4/2026).

Meski demikian, Syamsyarief menilai distribusi SPKLU belum merata.

Saat ini, fasilitas tersebut masih terkonsentrasi di wilayah perkotaan seperti Bandar Lampung, serta sebagian besar masih didominasi oleh kepemilikan atau kerja sama dengan PLN.

Selain keterbatasan infrastruktur, masyarakat juga masih mengeluhkan lamanya waktu pengisian daya kendaraan listrik.

Hal ini menjadi salah satu hambatan utama dalam percepatan adopsi kendaraan listrik di daerah.

Syamsyarief menjelaskan, perbedaan teknologi pengisian menjadi faktor utama.

Saat ini terdapat tiga jenis sistem pengisian, yakni AC charger yang relatif lambat namun murah, DC fast charger yang umum digunakan di SPKLU (terutama di rest area), serta teknologi ultra-fast charging (HPC) yang masih dalam tahap pengembangan.

"Fast charging memang bisa memangkas waktu pengisian secara signifikan dibandingkan pengisian normal. Namun, tetap belum bisa menyaingi kecepatan pengisian bahan bakar minyak," jelasnya.

Untuk mengatasi hal tersebut, ia menyarankan beberapa langkah strategis, di antaranya memperbanyak fasilitas fast charging di lokasi strategis, menambah jumlah SPKLU untuk mengurangi antrean, serta mendorong pengembangan teknologi baterai yang mendukung pengisian cepat.

Selain itu, diperlukan pengaturan manajemen beban listrik agar pasokan daya tetap stabil dan andal.

Di sisi lain, sistem tukar baterai atau battery swapping juga dinilai sebagai solusi alternatif, khususnya untuk kendaraan roda dua.

Sumber: Tribun Lampung
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved