Berita Lampung

BBWS Mesuji Lampung Ungkap 8 Persoalan Utama Penyebab Banjir di Bandar Lampung

Elroy menjelaskan, dari hasil identifikasi lapangan, terdapat delapan persoalan utama penyebab banjir. 

Tayang:
Penulis: Riyo Pratama | Editor: Reny Fitriani
Tribunlampung.co.id/Riyo Pratama
FGD PENANGANAN BANJIR - Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Mesuji Sekampung, Elroy Koyari tengah saat Focus Group Discussion (FGD) penanganan banjir di Kampus Institut Informatika dan Bisnis Darmajaya, Selasa (28/4/2026). 

Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Mesuji Sekampung, Elroy Koyari, menyebut banjir di Kota Bandar Lampung dipicu kombinasi curah hujan tinggi, perubahan lingkungan, serta persoalan struktural pada sistem sungai yang semakin kompleks.

Hal itu terungkap dalam Focus Group Discussion (FGD) penanganan banjir di Kampus Institut Informatika dan Bisnis Darmajaya, Selasa (28/4/2026).

Dalam paparannya, Elroy mengungkapkan banjir besar terjadi beruntun, termasuk pada 6 Agustus dan 11 Agustus, dengan skala genangan yang semakin meluas.

“Memang pola titik banjir ini semakin besar. Ada lokasi yang sudah ditangani, tapi di titik lain belum, sehingga masalahnya berpindah dan meluas,” ujarnya.

Ia menegaskan, bahwa persoalan banjir harus dilihat dalam satu kesatuan daerah aliran sungai (DAS), bukan parsial.

Baca Juga: Wali Kota Ungkap Penyebab Banjir di Bandar Lampung, Banyak Bangunan Tutupi Sungai

“Kalau kita bicara banjir, kita semua berada dalam satu DAS. Air yang jatuh di satu wilayah akan berkumpul dan mengalir ke satu sistem sungai. Jadi tidak bisa ditangani sepotong-sepotong,” kata dia.

Menurutnya, terdapat tiga sungai besar yang menjadi sistem utama aliran di Kota Bandar Lampung, yakni Way Kuripan (Wai Kunyit/Kurai), Way Balau, dan Way Galunggung, yang semuanya berkontribusi terhadap potensi banjir di kawasan perkotaan.

Elroy menjelaskan, dari hasil identifikasi lapangan, terdapat delapan persoalan utama penyebab banjir

Ia menekankan bahwa faktor pertama adalah intensitas hujan yang tinggi.

“Kami mencatat saat kejadian banjir, intensitas hujan di beberapa pos mencapai di atas 77 mm. Menurut BMKG, di atas 50 mm sudah masuk kategori hujan lebat. Jadi secara kondisi alamiah saja, potensi banjir sudah sangat besar,” jelasnya.

Selain itu, ia menyoroti banyaknya tanggul yang jebol. Namun, ia menegaskan bahwa sebagian besar tanggul tersebut bukan merupakan aset BBWS.

“Tanggul itu banyak jumlahnya, tapi bukan aset kami. Itu milik pemerintah daerah. Jadi penanganannya memang harus kolaborasi,” ujarnya.

Permasalahan lain yang cukup krusial adalah bentuk sungai yang tidak ideal.

Elroy menyebut kondisi lebar sungai yang berubah-ubah menjadi penyebab utama terjadinya penyumbatan aliran air.

Sumber: Tribun Lampung
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved