Ekspor Tapioka Lampung
Barantin: Kualitas dan Keamanan Jadi Kunci Bangun Kepercayaan Pasar Internasional
Darma memaparkan, realisasi ekspor tapioka Lampung hingga April 2026 telah mencapai 7.600 ton dan diperkirakan segera menyentuh 10.000 ton.
Penulis: Hurri Agusto | Editor: Daniel Tri Hardanto
Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Badan Karantina Indonesia (Barantin) menekankan pentingnya menjaga kualitas dan keamanan komoditas ekspor unggulan sebagai kunci utama membangun kepercayaan pasar internasional.
Hal itu diungkapkan Plt Deputi Bidang Karantina Tumbuhan Barantin, Darma Panca Putra, dalam acara pelepasan ekspor 3.330 ton tapioka senilai Rp 26 miliar menuju China di Pelabuhan Panjang, Bandar Lampung, Selasa (5/5/2026).
Darma memaparkan, realisasi ekspor tapioka Lampung hingga April 2026 telah mencapai 7.600 ton dan diperkirakan segera menyentuh angka 10.000 ton.
Darma memberikan apresiasi tinggi kepada Provinsi Lampung karena menjadi daerah yang paling dominan dalam menyumbang angka ekspor tapioka nasional dibandingkan provinsi lainnya.
Berdasarkan data tahun 2025, Lampung sukses mengekspor 22.500 ton tapioka dengan nilai lebih dari Rp 130 miliar ke berbagai negara seperti China, Filipina, Selandia Baru, dan Taiwan.
Darma mengingatkan bahwa tantangan pasar global saat ini bukan hanya soal kontinuitas stok, tetapi juga tuntutan kualitas produk yang sangat ketat di pasar internasional.
Barantin berkomitmen menjalankan fungsinya sebagai fasilitator perdagangan dengan memastikan setiap produk turunan singkong memenuhi standar kesehatan tumbuhan dan persyaratan teknis negara tujuan melalui sertifikasi karantina.
"Kualitas dari produk ini menjadi PR (pekerjaan rumah) kita bersama mulai dari tahap produksi, pengolahan, sampai transportasi, karena penanganan pasca produksi adalah kunci," tegas Darma.
Lebih lanjut, Drama menegaskan bahwa penguatan ekspor harus didukung sistem yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.
"Sesuai arahan Bapak Presiden dalam Asta Cita, hilirisasi adalah kunci kemandirian industri. Badan Karantina Indonesia, dalam fungsinya sebagai penjamin mutu sekaligus fasilitator perdagangan (trade facilitator), hadir sebagai jembatan untuk memastikan setiap produk, termasuk turunan singkong,
memenuhi standar keamanan pangan negara tujuan, sebagai keunggulan kompetitif Indonesia di pasar internasional," beber dia.
Selain itu, kelancaran ekspor juga didukung oleh kolaborasi lintas instansi yang solid.
Menurutnya, sinergi antara Pelindo, Bea Cukai, serta Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Perindag), Dinas Ketahanan Pangan dan Hortikultura Provinsi Lampung menjadi kunci dalam memastikan proses ekspor berjalan efisien dan tepat waktu.
"Pelindo berperan dalam penyediaan layanan kepelabuhanan. Bea Cukai mempercepat proses kepabeanan. Perindag memberikan fasilitasi perdagangan dan dukungan terhadap pelaku usaha, serta Dinas Ketahanan Pangan sebagai pembina pelaku usaha. Kolaborasi ini menciptakan ekosistem perdagangan yang semakin terintegrasi," tambah Drama.
Dengan dukungan sistem karantina yang andal serta kolaborasi lintas instansi yang kuat, ekspor tapioka diharapkan tidak hanya menjadi capaian jangka pendek, tetapi juga menjadi instrumen strategis dalam mendorong kesejahteraan petani dan memperkuat daya saing Indonesia di pasar global.
(Tribunlampung.co.id/Hurri Agusto)
| Kajati Lampung Lantik Wakajati dan Kajari Lamtim, Danang Harap Beri Energi Baru |
|
|---|
| Masuk ke Kandang, SR Bawa Kabur Kambing Rambon Milik Petani di Punggur |
|
|---|
| Pembangunan Jembatan Gantung Garuda Dikebut, Warga Lamteng Harap Ekonomi Meningkat |
|
|---|
| Dongkrak Kunjungan Wisatawan, Dispar Pesawaran Tekankan Kolaborasi dan Inovasi Atraksi |
|
|---|
| Tak Ada Tanda Kekerasan pada Jasad Pemancing yang Ditemukan di Tanggul Way Bungur |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lampung/foto/bank/originals/Barantin-pelepasan-ekspor-tapioka-di-Pelabuhan-Panjang.jpg)